Memadukan Beragam Metode untuk Pembelajaran di Kelas

Metode kolaboratif dalam pembelajaran lebih menekankan pada pembangunan makna oleh siswa daripada proses sosial yang bertumpu pada konteks belajar. Metode kolaboratif ini lebih jauh dan mendalam dibandingkan hanya sekadar kooperatif. Dasar dari metode kolaboratif adalah teori interaksional yang memandang belajar sebagai suatu proses membangun makna melalui interaksi sosial.

Pembelajaran kolaboratif dapat menyediakan peluang untuk menuju pada kesuksesan praktik-praktik pembelajaran. Sebagai teknologi untuk pembelajaran, pembelajaran kolaboratif melibatkan partisipasi aktif para siswa dan mengurangi dampak adanya perbedaan-perbedaan antar individu. Pembelajaran kolaboratif telah menambah momentum pendidikan formal dan informal dari dua kekuatan yang bertemu, yaitu: (1) realisasi praktik, bahwa hidup di luar kelas memerlukan aktivitas kolaboratif dalam kehidupan di dunia nyata; (2) menumbuhkan kesadaran berinteraksi sosial dalam upaya mewujudkan pembelajaran bermakna.

Ide pembelajaran kolaboratif bermula dari perspektif filosofis terhadap konsep belajar. Untuk dapat belajar, seseorang harus memiliki pasangan atau teman. Pada tahun 1916, John Dewey, menulis sebuah buku “Democracy and Education”. Dalam buku itu, Dewey menggagas konsep pendidikan, bahwa kelas seharusnya merupakan cermin
masyarakat dan berfungsi sebagai laboratorium untuk belajar tentang kehidupan nyata. Pemikiran Dewey yang utama tentang pendidikan (Jacob et al., 1996), adalah: (1) siswa hendaknya aktif, learning by doing; (2) belajar hendaknya didasari motivasi intrinsik; (3) pengetahuan adalah berkembang, tidak bersifat tetap; (4) kegiatan belajar hendaknya sesuai dengan kebutuhan dan minat siswa; (5) pendidikan harus mencakup kegiatan belajar dengan prinsip saling memahami dan saling menghormati satu sama lain, artinya prosedur demokratis sangat penting; (6) kegiatan belajar hendaknya berhubungan dengan dunia nyata dan bertujuan mengembangkan dunia tersebut.

Metode kolaboratif didasarkan pada asumsi-asumsi mengenai siswa proses belajar sebagai berikut:

  1. Belajar itu aktif dan konstruktif: 

Untuk mempelajari bahan pelajaran, siswa harus terlibat secara aktif dengan bahan itu. Siswa perlu mengintegrasikan bahan baru ini dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Siswa membangun makna atau mencipta sesuatu yang baru yang terkait dengan bahan pelajaran.

  1. Belajar itu bergantung konteks: 

Kegiatan pembelajaran menghadapkan siswa pada tugas atau masalah menantang yang terkait dengan konteks yang sudah dikenal siswa. Siswa terlibat langsung dalam penyelesaian tugas atau pemecahan masalah itu.

  1. Siswa itu beraneka latar belakang 

Para siswa mempunyai perbedaan dalam banyak hal, seperti latarbelakang, gaya belajar, pengalaman, dan aspirasi. Perbedaan-perbedaan itu diakui dan diterima dalam kegiatan kerjasama, dan bahkan diperlukan untuk meningkatkan mutu pencapaian hasil bersama dalam proses belajar.

  1. Belajar itu bersifat sosial:

Proses belajar merupakan proses interaksi sosial yang di dalamnya siswa membangun makna yang diterima bersama.

Menurut teori interaksional dari Vygotsky, proses interaksi itu berlangsung dalam dua tahap, yaitu interaksi sosial dan internalisasi (Voigt, 1996). Kemudian, teori interaksional dengan pendekatan interaksionisme simbolik menjelaskan proses membangun makna dengan menekankan proses pemaknaan dalam diri pelaku. Masing-masing pelaku interaksi sosial mengalami proses pemaknaan pribadi, dan dalam interaksi sosial terjadi saling-pengaruh di antara proses-proses pribadi itu, sehingga terbentuk makna yang diterima bersama. Yackel & Cobb (1996) menyebut proses ini sebagai pembentukan makna secara interaktif. Proses pembentukan makna yang diterima bersama melibatkan negosiasi. Negosiasi adalah proses saling penyesuaian diri di antara individu-individu yang berinteraksi sosial. Negosiasi diperlukan karena setiap objek atau kejadian dalam interaksi antar manusia bersifat multi interpretasi. Agar dapat memahami objek atau kejadian, tiap-tiap orang menggunakan pengetahuan latar belakang masing-masing dan membentuk konteks makna guna menafsirkan objek atau kejadian itu (Voigt, 1996).

Dalam lingkungan pembelajaran, proses pembentukan makna dalam diri siswa membutuhkan dukungan guru berupa motivasi atau penguatan. Motivasi dalam bentuk penguatan adalah bantuan bagi siswa yang diberikan dalam wilayah perkembangan terdekat siswa, artinya sesuai dengan usia perkembangan mentalnya. Motivasi dalam bentuk penguatan diberikan berdasarkan apa yang sudah bermakna bagi siswa, sehingga apa yang sebelumnya belum dapat dimaknai sendiri oleh siswa sekarang dapat bermakna berkat motivasi dalam bentuk penguatan itu.

Dengan demikian, motivasi dalam bentuk penguatan diberikan kepada siswa dalam situasi yang interaktif komonikatif, dalam arti guru memberikan motivasi dalam bentuk penguatan berdasarkan interpretasi akan apa yang sudah bermakna bagi siswa, dan siswa mengalami perkembangan dalam proses pembentukan makna berkat motivasi dalam bentuk penguatan itu.

Proses negosiasi antar siswa dan pemberian motivasi dalam bentuk penguatan jauh lebih banyak terwujud dalam pembelajaran kolaboratif daripada dalam pembelajaran yang berpusat pada penyajian dan penjelasan bahan pelajaran oleh guru. Lingkungan pembelajaran kolaboratif berintikan usaha bersama, baik antar siswa maupun antara siswa dan guru, dalam membangun pemahaman, pemecahan masalah, atau makna, atau dalam menciptakan suatu produk.

Nelson (1999) merinci nilai-nilai pendidikan (pedagogical values) yang menjadi panekanan dalam pembelajaran kolaboratif. Nilai-nilai meliputi:

  1. Memaksimalkan proses kerjasama yang berlangsung secara alamiah di antara para siswa.
  2. Menciptakan lingkungan pembelajaran yang berpusat pada siswa, kontekstual, terintegrasi, dan bersuasana kerjasama.
  3. Menghargai pentingnya keaslian, kontribusi, dan pengalaman siswa dalam kaitannya dengan bahan pelajaran dan proses belajar.
  4. Memberi kesempatan kepada siswa menjadi partisipan aktif dalam proses belajar.
  5. Mengembangkan berpikir kritis dan ketrampilan pemecahan masalah.
  6. Mendorong eksplorasi bahan pelajaran yang melibatkan bermacam-macam sudut pandang.
  7. Menghargai pentingnya konteks sosial bagi proses belajar.
  8. Menumbuhkan hubungan yang saling mendukung dan saling menghargai di antara para siswa, dan di antara siswa dan guru.
  9. Membangun semangat belajar sepanjang hayat.

Lebih jauh, Nelson (1999) mengusulkan lingkungan pembelajaran kolaboratif dengan ciri-ciri sebagai berikut:

1)  Melibatkan siswa dalam ajang pertukaran gagasan dan informasi.

2)  Memungkinkan siswa mengeksplorasi gagasan dan mencobakan berbagai pendekatan dalam pengerjaan tugas.

3)  Menata-ulang kurikulum serta menyesuaikan keadaan sekitar dan suasana kelas untuk mendukung kerja kelompok.

4)  Menyediakan cukup waktu, ruang, dan sumber untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan belajar bersama.

5)  Menyediakan sebanyak mungkin proses belajar yang bertolak dari kegiatan pemecahan masalah atau penyelesaian proyek.

Berikut ini adalah langkah-langkah pembelajaran kolaboratif.

a)   Para siswa dalam kelompok menetapkan tujuan belajar dan membagi tugas sendiri-sendiri

b)  Semua siswa dalam kelompok membaca, berdiskusi, dan menulis.

c)   Kelompok kolaboratif bekerja secara bersinergi mengidentifikasi, mendemontrasikan, meneliti, menganalisis, dan memformulasikan jawaban-jawaban tugas atau masalah dalam LKS atau masalah yang ditemukan sendiri.

d)  Setelah kegiatan kelompok kolaboratif menyepakati hasil pemecahan masalah, masing-masing siswa menulis laporan sendiri-sendiri secara lengkap.

e)   Guru menunjuk salah satu kelompok secara acak (selanjutnya diupayakan agar semua kelompok dapat giliran ke depan) untuk melakukan presentasi hasil diskusi kelompok kolaboratifnya di depan kelas, siswa pada kelompok lain mengamati, mencermati, membandingkan hasil presentasi tersebut, dan menanggapi. Kegitan ini dilakukan selama lebih kurang 20-30 menit.

f)    Masing-masing siswa dalam kelompok kolaboratif melakukan elaborasi, inferensi, dan revisi (bila diperlukan) terhadap laporan yang akan dikumpulan.

g)  Laporan masing-masing siswa terhadap tugas-tugas yang telah dikumpulkan, disusun perkelompok kolaboratif.

h)  Laporan siswa dikoreksi, dikomentari, dinilai, dikembalikan pada pertemuan berikutnya, dan didiskusikan.

UPAYA MENINGKATKAN MINAT BACA SISWA SD

Pendahuluan.

Dunia kita dewasa ini sangatlah berbeda dengan dunia beberapa tahun yang lalu. Jumlah penduduk semakin meningkat. Ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat dan sumber–sumber pengetahuan berupa buku–buku maupun media cetak lainnya tumbuh dengan pesatnya pula.

Pendidikan yang hanya ditujukan untuk mengembangkan intelek dan ketrampilan – ketrempilan tertentu tidaklah memadai lagi di jaman sekarang agar dapat mempersiapkan anak didik hidup dalam dunia yang cepat berubah ini, seharusnya pendidikan lebih bersifat dinamis dan mampu meningkatkan daya anak berfikir dengan tujuan  : Meningkatkan kemampuan dan menanamkan kebiasaan belajar sendiri sesuai dengan bakat dan daya perkembangannya.

Pelajaran di kelas dan buku teks masih mempunyai peranan penting dalam menyampaikan pengetahuan – pengetahuan tertentu. Tetapi tidaklah ada buku pelajaran yang isinya mencakup lengkap dengan segala sesuatu yang perlu diketahui murid.

Untuk mencapai tujuan yang lebih luas, diperlukan PERPUSTAKAAN yang berisikan berbagai jenis sumber pengetahuan dan memberi kesempatan kepada tiap-tiap anak didik untuk belajar sendiri dengan bakat, perhatian dan waktu yang dimiliki oleh anak.

Bahan-bahan pustaka akan menimbulkan motivasi belajar dan menghidupkan gairah serta minat baca untuk memperkaya pengetahuannya. Hal-hal baru yang ditemukan anak dalam perpustakaan akan menimbulkan daya pikir anak lebih tinggi. Dalam hal ini perpustakaan itu merupakan alat yang memainkan peranan aktif dalam proses pendidikan generasi yang akan datang.

Berikut saya akan menguraikan pokok-pokok masalah bagaimana upaya sebagai pengelola perpustakaan di sekolah untuk lebih meningkatkan minat baca anak pada perpustakaan di sekolah maupun terhadap buku-buku sumber pengetahuan antara lain : 1) Fungsi perpustakaan sekolah; 2) Cara pengelolaan perpustakaan sekolah.

 Fungsi perpustakaan sekolah

Berbicara tentang perpustakaan di sekolah tidak akan lepas begitu saja dari masalah pendidikan yang diselenggarakan di sekolah. Kami mencoba membandingkan pendidikan yang dilaksanakan beberapa tahun yang lalu dengan pelaksanaan pendidikan masa sekarang, termasuk didalamnya pelaksanaan pengelolaan perpustakaan di sekolah

Pada masa dahulu, tugas utama dari sekolah adalah melatih kemahiran dalam mata pelajaran mata pelajaran tertentu. Untuk setiap mata pelajaran disediakan buku-buku pelajaran. Seluruh program dan organisasi sekolah serta metode mengajar dan alat alat pelajaran ditujukan untuk mencapai taraf kemahiran yang telah ditentukan. Buku-buku pelajaran merupakan hal yang penting peranannya dalam sistim ini. Buku dan sumber pengetahuan yang lain sekan dikesampingkan, sebab buku pelajaran sudah dianggap dapat mencakup segala yang perlu diketahui murid.

Perpustakaan yang berisikan berbagai jenis sumber pengetahuan dan diatur dalam ruangan yang kusus, tidak dirasa perlu, kalaupun ada buku-buku gunanya hanya sekedar persediaan untuk bacaan hiburan. Jenis dan ruang lingkup isi buku – buku tidak di tentukan dengan seksama. Murid diperbolehkan meminjam buku– buku, tetapi tidak di atur dan di haruskan memakai buku–buku tertentu untuk menambah pengetahuan mereka.

Cepatnya perkembangan ilmu pengetahuan di segala bidang, dewasa ini membuat manusia sadar, bahwa tugas sekolah tidak cukup melatih ingatan dan kemahiran dalam beberapa mata pelajaran saja. Isi pelajaran tidak dapat lagi di batasi hanya kepada isi buku pelajaran. Pendidikan tidak hanya menyampaikan pengetahuan dari guru dan buku pelajaran kepada anak didik, tetapi juga memberikan kesempatan kepada anak didik untuk ikut aktif dalam usaha membuka pikirannya, mengembangkan semua jenis  bakat yang ada padanya dan membiasakan anak memperkaya pengetahuannya dengan usahanya sendiri melalui kegemarannya membaca.

Perpustakaan sekolah di adakan bukan lagi hanya sekedar melayani selera para pelajar ( siswa ) untuk membaca buku–buku. Perpustakaan itu harus dapat membantu para pelajar mengasah otak, memperluas dan memperdalam pengetahuan , melahirkan kecekatan. Perpustakaan itu harus dapat membantu siswa untuk beraktivitas baik untuk mendukung kurikuler dan ekstra kurikuler.

Sedangkan fungsi utama dari perpustakaan :

  1. 1.      Edukatif

Membantu para pelajar melaksanakan penyelelidikan dan mencari keterangan yang lebih luas dari pelajaran yang di dapatnya di dalam kelas. Perpustakaan harus memberikan bahan- bahan yang dapat memperkaya pelajaran , membentuk watak dan pribadi yang halus dan luhur  serta berjiwa patriot sejati.

  1. 2.      Information ( Informasi )

Dari sumber yang beraneka ragam itu seorang  anak  dapat mengetahui bahwa berbagai informasi dapat di berikan dengan cara yang berbeda–beda. daya kritiknya akan lebih berkembang bila ia menemukan keterangan yang bertentangan , mengenai masalah yang sama dari buku – buku yang mereka baca.

  1. 3.   INSPIRASI

Perpustakaan yang baik juga harus dapat membantu siswa untuk mengembangkan kegemarannya , dan menimbulkan gagasan baru

  1. 4.   PENDIDIKAN TANGGUNG JAWAB

Perpustakaan yang di pimpin dan diatur baik, akan memberikan pendidikan tanggung jawab. Siswa diikutsertakan dalam pekerjaan rutin pengelolaan perpustakaan, seperti:  a) menolong menyelenggarakan peminjaman dan pengembalian buku–buku; b) Mengecek buku–buku yang ada dalam rak; c) Menolong kawan–kawan yang belum berpengalaman

Cara pengelolaan perpustakaan sekolah.

Perpustakaan merupakan sarana penting bagi pendidikan. Suatu lembaga pendidikan yang tidak mempunyai perpustakaan akan sangat sulit berkembang. Untuk lebih meningkatkan pendidikan di sekolah, sudah semestinya perpustakaan berisi buku–buku yang mendukung kegiatan pendidikan tersebut, yaitu buku–buku yang langsung berhubungan dan mendukung mata pelajaran, serta buku–buku lain yang bersifat pengetahuan umum yang berguna untuk siswa dalam usaha menambah cakrawala pemikiran–pemikiran mereka.

Pengelola perpustakaan hendaknya memperhatikan keseimbangan jumlah buku dan dapat mengembangkan koleksi melalui: 1) Donasi ( sumbangan ); 2) Pembelian; 3) Hasil karya guru atau murid

Perlu di perhatikan pula hendaknya dalam pengembangan koleksi tersebut, agar memperhatikan dan memilih buku–buku yang akan  dijadikan koleksi dalam perpustakaan sekolah, sehingga  dengan demikian dapat dicegah tersalurnya buku–buku yang tidak sesuai dengan keperluan anak didik. Perpustakaan sekolah hendaknya berisi buku–buku yang dapat menunjang tercapainya pendidikan tanpa meninggalkan fungsi dan tujuan perpustakaan.

Di samping itu pengelola perpustakaan sekolah juga mampu, agar dapat menciptakan suasana sekolah, agar dapat menciptakan suasana perpustakaan sekolah, membuat anak kerasan diam di perpustakaan, juga suasana aman dan tenang serta memperhatikan kebersihan dan kerapian ruang perpustakaan.

Agar perpustakaan berjalan dengan baik dan mampu meningkatkan mutunya, sebagai pengelola hendaknya melaksanakan tugas–tugas pokok dalam mengelola perpustakaan, meliputi: a) Mengumpulkan;b)Menginventarisir; )Menyimpan; d) Memelihara; e) Melayani hendaklah di kerjakan dengan baik dan tertib.

Kesimpulan / Saran

Perpustakaan sebagai sumber belajar yang ikut menunjang tercapainya tujuan pendidikan di sekolah. Sesuai perkembangan jaman dan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan, maka tujuan pendidikan tidak dapat akan tercapai bila hanya menggantungkan pembelajaran di kelas saja tanpa memperhatikan kegiatan–kegiatan di luar kelas yang dapat menunjang tercapainya tujuan pendidikan.

Salah satu kegiatan yang dapat menunjang tercapainya tujuan pendidikan itu adalah dengan meningkatkan  penggunaan sarana perpustakaan yang telah di sediakan , tanpa meninggalkan kedisiplinan kita dalam menjalankan tugas utama sebagai pendidik dan sebagai pengelola perpustakaan, serta dapat menjaga kelestarian semua bahan yang ada di perpustakaan itu demi perkembangan generasi berikutnya.

Untuk menarik minat baca siswa perlu di perhatikan langkah – langkah sebagai berikut: 1) Dengan penerangan atau pengarahan kepada anak; 2) Diadakan lomba membaca buku atau membuat karya tulis secara berkala; 3) Pemilihan bahan pustaka yang sesuai dengan usia, selera dan bakat / kegemaran anak; 4) Diadakan penilaian membaca; 5) Penggunaan bahasa ndonesia yang benar dan mudah di pahami anak dalam setiap buku / karya tulis; 6) Penataan ruang perpustakaan yang mempesona, sehingga anak merasa betah membaca di dalam ruang perpustakaan.

MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION

Dalam Undang Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang system Pendidikan Nasional secara umum manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya ,karena pendidikan merupakan usaha agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaan atau cara lain yang lebih dikenal oleh masyarakat. Untuk itu seluruh komponen bangsa wajib mencerdaskan kehidupan bangsa yang merupakan salah satu tujuan Negara Indonesia .

Kelas merupakan tempat terjadinya proses belajar mengajar antara guru dan siswa, dimana guru harus bisa menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai dan siswa mendapatkan ilmu sesuai dengan kompetensi tersebut. Untuk pencapaian tujuan pembelajaran yang diharapkan, seorang guru harus memberikan pengajaran atau mengajar yang menyenangkan sehingga ilmu yang diserap oleh siswa dapat memberikan manfaat secara nyata bagi kehidupan siswa tersebut. Pembelajaran yang biasa diterapkan di kelas selama ini menggunakan metode ekspositori, dimana pembelajaran berpusat pada guru, siswa menjadi pasif, dan kurang terlibat dalam pembelajaran. Hal ini menyebabkan siswa mengalami kejenuhan yang akhirnya berakibat minimnya hasil belajar siswa. Menurut Hamalik (2003:31) “hasil belajar adalah pola perbuatan, nilai, pengertian, sikap, apresiasi, abilitas, dan keterampilan dari adanya proses belajar”. Hasil belajar merupakan bukti dari adanya perubahan tingkah laku siswa setelah menerima pelajaran dari guru.

Di dalam pelaksanaan pembelajaran, terdapat berbagai jenis metode atau model pembelajaran inovatif  yang dapat digunakan, salah satunya ialah pembelajaran jenis kooperatif. Nurhadi dkk (2004:61) menyatakan “pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar dan sengaja mengembangkan interaksi yang silih asuh untuk menghindari ketersinggungan dan kesalah pahaman yang dapat menimbulkan permusuhan”.

Menurut Suprijono (2009:111) pembelajaran aktif adalah salah satu metode pembelajaran yang hakikatnya untuk  mengarahkan    potensi peserta didik terhadap materi yang dipelajarinya. Dari metode pembelajaran aktif ini, siswa dapat memiliki peran yang cukup besar dalam mengeluarkan seluruh kreatifitas dan kemampuannya selama proses belajar mengajar berlangsung. Sehingga pada mata pelajaran Bahasa Indonesia sekolah dasar kelas atas, metode pembelajaran ini dapat dipergunakan.

Dalam pembelajaran aktif dikenal berbagai tipe yang salah satunya adalah pembelajaran aktif tipe Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC). Model Cooperative Integrated Reading and Composition merupakan program komprehensif untuk mengajarkan membaca dan menulis pada sekolah dimana para siswa ditugaskan untuk berpasangan dalam tim mereka untuk belajar dalam serangkaian kegiatan yang bersifat kognitif . Model CIRC ini dapat memotivasi siswa untuk membaca suatu wacana dan memahami isinya, sehingga hasil belajar mereka mengalami peningkatan dengan adanya metode tersebut.

  1. Model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC)

Model Cooperative Integrated Reading and Composition merupakan program komprehensif untuk mengajarkan membaca dan menulis pada sekolah dimana para siswa ditugaskan untuk berpasangan dalam tim mereka untuk belajar dalam serangkaian kegiatan yang bersifat kognitif (Slavin, 2008 :16).

Suprijono ( 2009:130) menyebutkan, langkah-langkah di dalam pembelajaran CIRC adalah sebagai berikut :

  1. Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang yang secara hiterogen
  2. Guru memberikan wacana/kliping sesuai dengan topik pembelajaran
  3. Siswa bekerja sama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberi tanggapan terhadap wacana/kliping dan ditulis pada lembar kertas
  4. Siswa mempresentasikan atau membacakan hasil kelompok
  5. Guru membuat kesimpulan bersama

 Hasil belajar

Menurut Hamalik (2003:31) “hasil belajar adalah pola perbuatan, nilai, pengertian, sikap, apresiasi, abilitas, dan keterampilan dari adanya proses belajar”. Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya .Hasil belajar merupakan bukti dari adanya perubahan tingkah laku siswa setelah menerima pelajaran dari guru. Hamalik (2003:183) “perbedaan hasil belajar di kalangan para siswa disebabkan oleh berbagai alternatif faktor-faktor, antara lain :

  • Faktor kematangan akibat kemajuan umur kronologis
  • Latar belakang masing-masing
  • Sikap
  • Bakat atas suatu bidang pelajaran yang diberikan

Selama ini kemampuan menggunakan metode pembelajaran belum begitu maksimal memperoleh perhatian  dari sekolah , kususnya guru bahasa Indonesia. Seharusnya kemampuan mengunakan metode pembelajaran dalam kegiatan pembelajaran sehari hari di sekolah .

Pada hakekatnya kemampuan menggunakan metode pembelajaran CIRC sangat dominan dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Karena guru membutuhkan pengetahuan dan tata cara khusus , maka dari itu sejak awal hendaknya ditanamkan bagaimana cara menggunakan metode CIRC yang benar pada diri siswa sehingga kelak mereka mampu berkarya hidup di masyarakat.

Mengingat begitu pentingnya penggunaan metode CIRC , maka guru berkeinginan meningkatkan hasil belajar siswa di klas atas terutama pelajaran Bahasa Indonesia.

Menurut  buku Pedoman Penulisan Karya Ilmiah Universitas Negeri Malang (UM, 2010:58) dinyatakan bahwa “Peneliti adalah pihak yang merasakan adanya masalah yang perlu diselesaikan, oleh karena itu, kehadiran peneliti ( guru ) di dalam kancah penelitian sangatlah penting artinya agar dapat menghayati apa yang sebenarnya terjadi di lapangan”. Dari paparan diatas maka peran peneliti ( guru ) di dalam penelitian di lapangan mutlak  diperlukan , karena peneliti ( guru ) bertindak sebagai instrument kunci yakni sebagai pengumpul data, penganalisis data, pengamat, sekaligus sebagai fasilitator  dalam proses pembelajaran Bahasa Indonesia dalam upaya mengatasi masalah hasil belajar siswa yang rendah. Peneliti ( guru ) bertindak untuk melangsungkan proses pembelajaran yang menerapkan metode pembelajaran kooperatif tipe  Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) guna mencapai keberhasilan berupa peningkatan hasil belajar siswa di kelas atas.

Bertitik tolak dari hasil yang diperoleh siswa di kelas atas dapat diimplikasikan:

  • Guru memperoleh bahan pertimbangan guna pengembangan metoda mengajar bahasa Indonesia .
  • Pembaca lain dapat menjadikan hasil siswa ini sebagai bahan referensi untuk peningkatan hasil belajar serupa dengan obyek yang berbeda.
  • Mengambil kebijakan dalam pengembangan kurikulum dapat sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan

Berdasarkan uraian  tersebut diatas , saya dapat memberikan saran –  saran sebagai berikut:

  1. Dalam usaha peningkatan kosa kata siswa, hendaknya guru dapat memanfaatkan media yang ada di sekitarnya sehingga siswa mempunyai pengalaman kongret dalam menguraikan apa yang dipahami dan diketahui dalam bentuk lisan.
  2. Guru sebaiknya memberikan dorongan yang positif pada siswa sehingga mereka mampu menuangkan pengetahuannya dalam kalimat untuk meningkatkan motifasi belajar siswa.
  3. Guru dapat menggunakan alat peraga atau media lain ,seperti Audio Visual untuk meningkatkan motifasi siswa.
  4. Penelitian serupa hendaknya dilengkapi dengan data yang lebih lengkap mengenai kesalahan siswa dalam mengembangkan karangan beserta pembetulannya sehingga siswa dan guru dapat mengetahui perkembangannya
  5. Guru dapat menggunakan model model pembelajaran yang ada saat ini untuk meningkatkan motifasi siswa.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT. Bumi Aksara

Hamalik, Oemar. 2008. Proses Belajar Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara.

Nurhadi, dkk. 2003. Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK. Malang: Penerbit UM

Suprijono, A. 2009. Cooperative Learning. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Suyatno. 2009. Menjelajah Pembelajaran Inovatif. Sidoarjo: Masmedia Buana Pustaka Nurhadi dkk 2004.

KECERDASAN EMOSI DALAM PENJAS

Pendidikan jasmani merupakan pendidikan yang menggunakan aktivitas jasmani sebagai media untuk mencapai tujuan. Pendidikan jasmani makin penting dan strategis dalam kehidupan era teknologi yang sarat perubahan, persaingan dan kompleksitas. Pendidikan jasmani merupakan sarana yang efektif dan efisien untuk meningkatkan disiplin dan rasa tanggung jawab, kreativitas dan daya inovasi serta mengembangkan kecerdasan emosional.

Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) disebutkan bahwa pendidikan jasmani adalah suatu proses pendidikan melalui aktivitas jasmani yang didesain untuk meningkatkan kebugaran jasmani, mengembangkan keterampilan motorik, pengetahuan dan perilaku hidup sehat dan aktif, sikap sportif, dan kecerdasan emosi. Lingkungan belajar diatur secara seksama untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan seluruh ranah, jasmani, psikomotorik, kognitif, dan afektif setiap siswa.

Pendidikan jasmani memiliki tujuan: (a) meletakkan landasan karakter moral, (b) membangun landasan kepribadian yang kuat, sikap cinta damai, sikap sosial dan toleransi, (c) menumbuhkan kemampuan berfikir kritis, (d) mengembangkan sikap sportif, jujur, disiplin, bertanggung jawab, kerjasama, percaya diri, dan demokratis, mengembangkan kemampuan gerak dan keterampilan berbagai macam permainan dan olahraga, (e) mengembangkan keterampilan mengelola diri dalam pemeliharaan kebugaran (Depdiknas; 2003b).

Kecerdasan emosi meliputi kemampuan mengungkapkan perasaan, kesadaran serta pemahaman tentang emosi dan kemampuan untuk mengatur dan mengendalikannya. Kecerdasan emosi dapat juga diartikan kemampuan untuk mengendalikan dan memahami perasaan kita dan perasaan orang lain yang menuntun kemampuan mengatur perasaan tersebut.

Orang yang cerdas emosi tidak hanya memiliki emosi atau perasaan namun juga memahami apa artinya. Orang tersebut dapat memahami dirinya sendiri dan mampu memahami orang lain. Seolah-olah ia merasakan apa yang dirasakan orang lain.  Unsur-unsur kecerdasan emosi. Ada 5 Unsur kecerdasan emosi  : 1) Memahami emosi-emosi sendiri; 2) Mampu mengelola  emosi-emosi sendiri; 3) Memotivasi diri sendiri ; 4) Memahami emosi–emosi orang lain ; 4) Mampu membina hubungan sosial

Untuk mengetahui kecerdasan emosi seseorang, kelima unsur di atas dapat dijadikan barometer untuk mengukur apakah termasuk orang yang cerdas secara emosi. Hal-hal yang spesifik yang perlu dipahami dan dimiliki oleh orang-orang yang cerdas secara emosi  :

  1. 1.    Mengatasi Stress

Stress merupakan tekanan yang timbul akibat beban hidup, stress dapat dialami oleh siapa saja. Toleransi terhadap stress merupakan kemampuan untuk bertahan terhadap peristiwa-peristiwa buruk dan situasi penuh tekanan tanpa menjadi hancur.

Orang yang cerdas secara emosional mampu menghadapi kesulitan hidup dengan kepala tegak, tabah dan tidak mudah putus asa dan larut dalam emosi yang kuat. Cenderung menghadapi semua masalah dan bukan lain serta menghindari . Walaupun mungkin sesekali pernah terjatuh tetapi tidak terpuruk dan kembali sadar.

  1. 2.    Mengendalikan dorongan hati

Merupakan karakter emosi untuk menunda kesenangan sesaat untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dari masalah. Mengendalikan diri dapat diistilahkan menahan diri. Orang yang cerdas secara emosi tidak memiliki prinsip memiliki segalanya saat itu juga. Mengendalikan dorongan hati merupakan cara untuk bersabar dan mengubah rasa sakit dan kesulitan saat ini dengan kesenangan yang lebih besar pada masa mendatang.

  1. 3.    Mengelola suasana hati

Merupakan kemampuan emosional yang meliputi kecakapan untuk tetap tenang dan tidak gelisah dalam suasana apapun dan mampu mengatasi kesedihan dari sesuatu yang menjengkelkan. Mereka cepat semangat dan tahu cara menenangkan hati.

Orang yang cerdas secara emosi tidak berada di bawah kekuasaan emosi. Mengelola susana hati bukan  berarti menekan perasaan. Salah satu ekspresi emosi yang biasa timbul bagi setiap orang adalah marah. Tetapi marah yang dilakukan kepada orang yang tepat, waktu dan tujuan dengan cara yang tepat.

  1. 4.    Memotivasi diri

Orang yang memiliki kecerdasan emosi cenderung sangat produktif dan efektif dalam hal apapun yang mereka hadapi. Untuk memotivasi diri sendiri dapat dengan membaca buku atau artikel yang positif, evaluasi diri.

  1. 5.    Memahami orang lain

Menyadari dan menghargai perasaan orang lain adalah hal yang terpenting dalam kecerdasan emosi yang disebut empati. Empati berarti melihat dunia dari mata orang lain, yang berarti dapat membaca dan memahami emosi-emosi orang lain. Memahami orang lain dengan menjadi pendengar yang baik walaupun tidak harus setuju dengan apa yang kita dengar.

  1. 6.    Kemampuan sosial

Memiliki perhatian mendasar  terhadap orang lain merupakan kemampuan sosial. Orang yang mempun yang kemampuan sosial dapat bergaul dengan siapa saja dan dimana saja, menyenangkan dan tenggang rasa atau menghormati orang lain walaupun berbeda dan dalam keadaan apapun. Sikap seperti itu memerlukan harga diri yang tinggi berupa menerima diri sendiri apa adanya

MEMBANGKITKAN GAIRAH BELAJAR

MEMBANGKITKAN GAIRAH BELAJAR ANAK

Pada Masa anak usia 8-10 tahun, anak masih memerlukan dorongan dari luar, sebab motivasi belajar dari dalam diri anak belum berakar. Apabila motivasi dari dalam diri anak belum ada lama kelamaan tanpa disadari akan muncullah masalah malas belajar. Dan masalah malas belajar itu tumbuh karena anak belum mengetahui manfaat dari belajar atau suatu keinginan yang ingin dicapainya. Selain itu juga bisa karena kelelahan beraktifitas antara lain: banyak bermain yang banyak menguras tenaga. Selain itu juga disebabkan tidak adanya dukungan dari orang tua dan juga faktor lingkungan.

Kasih sayang untuk mengatasi anak malas belajar.

Sebagian besar para orang tua dan para guru akan memarahi dang menghukun bahkan menghina bagi anak yang malas belajar. Padahal, hal ini akan berakibat kurang baik bagi perkembangan mental anak. Anak akan kehilangan kepercayaan diri dan kepribadiannya. Sebenarnya kemalasan itu membutuhkan simpati, kasih sayang dan penanganan yang tepat. Berikut adalah beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi anak malas belajar :

  1. 1.      Memberi sentuhan pada titik  peka anak

Sebagai orang tua dan pendidik bagi anak-anak, kita harus sabar dan memberikan perhatian khusus pada hal-hal yang menarik perhatian anak. Ini perlu dilakukan untuk memperoleh tanggapan dan perhatian anak. Dengan demikian anak akan terbuka menerima pendapat orang lain dengan perasaan senang dan gembira, bebas dari perasaan tertekan, takut dan terpaksa.

Pada akhirnya anak nanti akan menerima pemahaman betapa pentingnya “ proses belajar untuk mencapai tujuan atau cita-cita”. Sehingga anak akan tergerak untuk melakukan dan merencanakan kegiatan belajar dari dalam hatinya sendiri ( motivasi intrinsic). Tentu saja ini dibutuhkan kesabaran untuk mendekatkan pada anak.

  1. 2.      Membangkitkan nilai plus bagi anak

Setiap orang tua tentunya menginginkan semangat anaknya terpacu untuk belajar. Untuk menyentuh perasaan anak / keinginannya, agar dirinya merasa tertantang untuk melakukan sesuatu yang positif. Kita dapat mengambil contoh dari tokoh-tokoh film yang sukses yang diidolakan anak. Kita dapat mengungkapkan pada anak bahwa untuk menjadi sukses dibutuhkan : perencanaan belajar, cara-cara belajar tahu yang  hendak dipelajari, sehingga terkesan pemahaman “ belajar yang tidak sekedar belajar . hal ini harus sering kita lakukan karena anak usia SD masih perlu bimbingan secara terus menerus.

  1. 3.      Mengembangkan cita-cita anak

Kita orang tua / guru berperan aktif untuk mendorong agar  anak memiliki cita-cita sesuai dengan taraf perkembangan daya nalar dan usianya. Cita-cita anak selalu berubah-ubah bila masih kanak-kanak sesuai perkembangannya. Bila sudah punya cita-cita hidup akan tumbuh motivasi pada diri anak akan lebih giat belajar.

  1. 4.        Menentukan waktu belajar yang tepat bagi anak

Hal yang perlu dilakukan dalam menentukan waktu belajar adalah : sesuaikan keinginan anak tidak berbenturan dengan waktu keinginan anak yang lain, kondisikan anak dalam suasana fresh / segar, bebas rasa ngantuk , lelah dan sebagainya.

  1. 5.      Mengembangkan tujuan belajar

Kalau anak tahu apa tujuan belajar dan manfaat belajar anak tentunya akan belajar dengan sungguh-sungguh dan lebih bermakna, tentunya anak lebih mudah memusatkan perhatian pada apa yang dipelajari.

  1. 6.        Mengembangkan cara belajar yang baik pada anak

Anak diberi strategi / trik-trik tertentu untuk belajar yang mudah dan baik, sehingga anak cepat memahami.

  1. 7.        Mengembangkan rasa percaya diri pada anak

Hal ini sangat penting bagi anak, karena rasa percaya diri merupakan sumber motivasi besar bagi  anak untuk memusatkan perhatian terhadap apa yang dipelajarinya. Dengan percaya diri anak akan tumbuh semangat bahwa dia mampu melakukan sesuatu yang sulit menjadi tantangan yang harus ditaklukkan / dikuasai, tidak gampang menyerah dalam menghadapi hambatan belajar.

 

MOTIVASI ANAK AGAR TIDAK MALAS BELAJAR

Berhasil membimbing anak dalam belajar dan menjadikannya sukses adalah suatu kebanggaan tersendiri bagi kita semua. Bahkan kita rela berusaha semaksimal mungkin demi membantu anak sukses dalam belajarnya. Tetapi bagaimana caranya yang paling tepat ? inilah yang menjadi tantangan bagi kita semua.

Membantu anak dalam belajar bukanlah hal yang sederhana, bahkan bisa menjadi suatu tantangan tersendiri baik secara intelektual atau secara emosional. Keberhasilan belajar anak bukan hanya tanggung jawab gurunya saja tapi merupakan tanggung jawab kita semua, sekolah, keluarga dan masyarakat.

Pola belajar anak memang dibentuk sejak usia dini dan pada pendidikan dasar. Sesuai dengan masanya. Ia mengalami masa perkembangan mental dan pendidikan karakter. Dimasa ini sebenarnya anak tidak hanya belajar : membaca, menulis, berhitung atau menghafal pengetahuan umum. Tetapi juga belajar tentang tanggung jawab skala nilai moral, skala nilai prioritas kegiatan, juga soal kedisiplinan. Terkadang hal ini yang sering kita lupakan.

Kadangkala ada sebagaian orang tua yang terlalu ikut campur tangan mengerjakan PR anaknya bahkan dikerjakan orangtuanya/ kakaknya lalu anaknya tinggal menyalin di buku pelajaran. Hal ini tidak sesuai dengan aspek yang diharapkan guru di sekolah. Tujuan anak diberi PR adalah agar anak mau mengulang bahan pelajaran yang disampaikan di sekolah, mendidik anak agar ia bertanggung jawab terhadap suatu tugas, melatih mengatur jadwal kegiatan, dan melatih anak mengerjakan sesuatu secara mandiri.

Dengan demikian apakah orang tua tidak boleh membantu anak dalam belajar dan membantu anak dalam mengerjakan PR ? Boleh bahkan memang dibutuhkan tetapi harus dengan cara yang tepat. Berikut ini ada beberapa cara yang tepat untuk membantu anak dalam mengerjakan PR :

  1. Mulailah mengajarinya untuk belajar dan mengerjakan PR tiap hari secara rutin

Kalau perlu buat kesepakatan belajar untuk membuat jadwal jam berapa harus belajar. Dengan cara ini belajar lebih ringan dan dalam menghadapi ulangan kita tidak gentar lagi atau merasa enjoy.

  1. 2.      Tanamkanlah dalam diri anak bahwa kegiatan belajar adalah hal yang harus diprioritaskan dalam kegiatan sehari-hari

Jangan kacaukan jam belajar anak dengan acara yang lain seperti diajak belanja atau diajak bermain. Kalau sudah terbiasa sejak kecil orang tuanya menghargai waktu belajar otomatis anak terbiasa / beranggapan bahwa waktu belajar adalah sangat penting tidak di sia-siakan.

  1. 3.      Perhatikan bagaimana suasana hati mereka saat belajar.

Apakah ekspresinya senang atau kesal dan frustasi. Sebagai orang tua harus tanggap apa yang harus dirasakan anak saat belajar. Bila belajar dengan suasana senang akan mudah melekat dalam diri anak dan anak merasa tidak dibebani. Tetapi kalau anak merasa kesal saat belajar kita orang tua harus mencari apa penyebabnya. Disini orang tua sangat berperan, kita dekati perasaannya, diajak komunikasi hingga suasana belajar nanti menjadi menyenangkan saat ia belajar. Memang perlu kesabaran yang luar biasa, sebab anak butuh bimbingan.

  1. 4.      Pujilah usahanya

Dalam belajar dan mengerjakan PR jangan dilihat hasil akhirnya saja, hargailah usaha dan jerih payahnya walaupun hasil akhirnya belum sempurna. Hal itu wajar sebab justru memang itulah tujuan diberikan tugas itu untuk mengasah keterampilan anak. Ibaratnya “ tak usah mengasah pisau yang sudah tajam ”.

  1. 5.      Berilah penghargaan bagi anak atas usahanya walaupun dengan pujian

Dengan demikian anak merasa dihargai oleh orang lain sehingga nanti kalau ada PR lagi dia akan lebih bersemangat dalam mengerjakan PR.

  1. 6.      Jadikan suasana belajar dimana anak merasa nyaman.

Mungkin ia akan merasa aman dan nyaman belajar bila dekat dengan ibunya maka ibu harus siap menemani.

  1. 7.      Sediakan alat tulis yang diperlukan

Sebagai  orang tua harus sering mengontrol peralatan sekolah anaknya, jangan nunggu anaknya minta baru dibelikan. Sebab terkadang anak malas mengerjakan PR dengan berbagai alasan : pensilnya habis, setipnya habis bahkan buku tulisnya habis.

  1. 8.      Ajak anak menceritakan hari-harinya disekolah.

Biasakan sejak kecil untuk berbicara secara terbuka pada orang tua. Dengan ditanya kegiatan anak disekolah anak merasa diperhatikan dan orang tua bisa memantau situasi anak di sekolah. Gunakan waktu santai / rilex sehingga anak bebas untuk  menceritakan.

  1. 9.      Bila anak sedang belajar usahakan agar tidak ada hal yang menganggu konsentrasinya

Berikan suasana yang tenang. Tetapi bila ada anak yang gaya belajarnya sambil mendengar TV ya usahakan jangan terlalu keras.

  1. 10.  Hal yang sangat penting adalah komunikasi dengan anak.

Jadikan diri kita sebagi orang tua dan pendengar yang baik. Dengarkan dulu apa yang dirasakan dan hendak dikatakan anak. Jangan malah anak belum-belum sudah di beri nasehat bertubi-tubi tanpa memberi kesempatan mengemukakan pendapatnya / pikirannya. Dan jika ia mengutarakan sesuatu yang kurang sesuai dengan kemauan kita ( orang tua ) jangan langsung dimarahi atau dicela. Ajak ia bicara baik-baik dan buat dia untuk mengerti. Hal ini penting karena mengkondisikan anak untuk biasa bicara terbuka dan tidak berbohong pada orang tua.

  1. 11.  Jika anak hendak belajar kelompok bersama temannya dukunglah.

Hal ini dapat membuat anak bisa bersosialisasi dengan orang lain, tetapi orang tua harus memantau apakah belajar bersama sungguh-sungguh atau bersama dengan teman-temannya Cuma untuk bermain.

  1. 12.  Dengarkan komentar anak tentang gurunya.

 Tidak jarang anak mengeluh cara mengajar gurunya disekolah missal : terlalu cepat, gurunya galak, anak sulit menerima pelajaran. Jika mengalami hal seperti ini pertimbangkan untuk bertemu dengan gurunya.

  1. 13.  Refleksi Bagi Orang Tua

Setelah anak seharian berhadapan dengan gurunya di sekolah, jangan lagi kita yang seharusnya menjadi orang tuanya malah memposisikan diri sebagai guru lagi di rumah jadilah “orang tua”  bagi anak-anak kita di rumah.

Orang tua tidak hanya sebagai pengasuh, tapi juga sebagai pendidik, pelindung, pendorong, sekaligus sebagai sahabat yang saling memahami sorang anak.  

Mari kita posisikan peran kita sebagai orang tua secara proporsional, beri kesempatan pada anak-anak kita agar dapat berkembang secara wajar dengan tanpa merasa diintervensi keinginan-keinginannya, biarkan anak-anak kita tumbuh sesuai usia mental dan perkembangannya, inilah kiranya ujian kesabaran yang musti kita lalui untuk mewujudkan generasi masa depan. SEMOGA

Guru Kreatif dan Inovatif

Anak adalah harapan satu-satunya bagi orang tua. Sebagian besar orang tua  menginginkan  generasi penerusnya sukses sebagaimana orang tuanya.  Bahkan lebih sukses lagi melebihi  dari apa  yang diharapkan. Melihat kenyataan sekarang  harapan orang tua seperti itu terkadang bertolak belakang dengan kenyataannya. Ada anak yang sulit sekali menerima materi pelajaran sekolah, dan ada pula anak yang cepat menerima materi pelajaran dari gurunya. Di sisi lain kita juga sering kali  mendengar pengakuan dari anak–anak secara jujur. Guru ada  yang menakutkan,membosankan,  menjengkelkan dan lain-lain. Kalau benar  yang terjadi demikian.. maka bisa jadi anak – anak di kelas hanya menemukan buku pelajaran, bangku sekolah, mencatat, dan tidak pernah menemukan media belajar. Padahal usia anak di tingkat Sekolah Dasar adalah usia pertumbuhan.

Dalam usia pertumbuhan inilah masa usia emas untuk memacu semua aspek pribadi anak antara lain fisik, psikis, mental, dan spiritual yang bermutu. Sehingga Jangan sampai berhari-hari rutinitas yang dilakukan  anak-anak,  Pertama, hanya menulis, membaca buku, dan mendengarkan guru berceramah. Sementara itu hal–hal yang dibutuhkan anak justru tidak didapat. Seperti membongkar, membangun, bereksperimen, merancang, merencanakan, berkomunikasi serta memecahkan masalah. Anak tidak bisa menikmati lezatnya belajar. Kedua, setiap hari guru seringkali meninggalkan kelas. Guru hanya memberi tugas, PR, menagih tugas, sambil marah, dan sebagainya. Tentu suasana yang seperti itu dirasa anak kurang nyaman tidak bisa menikmati. Sekolah sudah  kehilangan maknanya sebagai wahana pendewasaan bagi seluruh penghuni di dalamnya. Serta penanaman ide, gagasan, dan kreatifitas otoritas-otoritas yang bersinggungan dengan keberadaannya.

Kalau yang terjadi sudah seperti itu,  berarti tidak ada  bedanya sekolah dengan penjara. Ruang-ruang kelas bagi siswa, lebih mirip dengan kerangkeng. Pintu-pintu  yang tertutup ketika pelajaran berlangsung, akan merusak cakrawala optik alternatif, bangku-bangku yang memaku tubuh anak-anak menyebabkan  sedikitpun anak tidak bisa bergerak, dan guru-guru mirip sipir penjara, marah jika dikritik, menolak jika ada usulan, membentak jika ada kesalahan, bahkan memukul ketika ada yang dirasanya pantas dipukul. Sehingga wajar ketika anak mendengar bel pulang berbunyi, apa yang terjadi? Anak langsung bersorak sorei “ Hore aku bebas “ mungkin itu yang akan diucapkan anak ketika keluar dari kelasnya .

Gambaran sekolah yang demikian dirasakan oleh anak kurang menginspirasi dan membosankan. Untuk itu  keadaan yang seperti ini tidak boleh dibiarkan berlarut. Harus kita rubah strategi, model, dan pola pikir kita untuk menghantarkan anak  sukses. Kita sebagai guru yang Profesional harus segera mengambil langkah yang cepat, tepat, akurat, dan kreatif. Dalam media KOMPAS.com  disampaikan bahwa Seorang guru harus bisa membangun iklim komunikasi yang baik dengan siswanya, agar para siswa mengerti apa yang disampaikan, dan membuat aktivitas belajar berjalan  menjadi lebih efektif, kreatif,  dan menginspirasi.

Untuk itu ada beberapa ide kreatif solusi untuk menghantarkan siswa sukses dalam belajar sesuai yang diharapkan. Pertama, guru jangan pernah mencoba menekan anak untuk memaksakan belajar dalam satu sesi. Kita ingat bahwa setiap anak sudah mempunyai pola belajar masing- masing. Seorang guru meluruskan dan memberi motivasi saja. Mungkin anak-anak ada yang belajarnya mempunyai waktu yang lama, namun tidak efektif dan ada anak yang mempunyai waktu belajarnya sedikit, namun efektif. Maka anak akan lebih berhasil yang  waktu belajarnya sedikit tapi lebih efektif, dibandingkan dengan watunya lama tapi tidak efektif. Namun tidak menutup kemungkinan lebih berhasil lagi kalau kita mempunyai waktu belajar yang lama semuanya efektif sehingga belajarnya lebih sukses dan berhasil. Selain itu, luangkan waktu belajar setiap saat dan jangan memaksakan mempelajari seluruhnya dalam satu atau dua sesi. Kuncinya, belajarlah dengan konsisten dan lakukan secara reguler meskipun dalam waktu singkat.

              Kedua,  Bikinkan anak rencana belajar yang harus diketahui oleh orang tuanya. Guru dan orang tua membuat kesepakatan yang jelas dan terprogram. Untuk itu, buatkan jadwal harian dengan waktu yang spesifik selama sepekan. Semuanya ( anak, orang tua, dan guru) harus mematuhi kesepakatan yang dibuat berdasarkan jadwal yang sudah ditentukan. Dan cobalah untuk tegas dengan jadwal yang telah disepakati bersama. Mereka yang belajar secara sporadis, pasti dalam waktu dekat dengan menerapkan jadwal secara disiplin seperti di atas pasti akan berubah total. Dan tidak lama akan kita ketahuihasilnya.
             Ketiga, ajaklah anak belajar  pada waktu yang sama. Tidak cukup hanya dengan merencanakan jadwal kapan anak harus belajar saja tetapi, anak juga harus belajar secara  konsisten dengan rutinitas belajar harian. Ketika anak  belajar pada waktu yang sama setiap hari dan setiap minggu, maka hal itu akan menjadi bagian yang rutin dalam kehidupan anak. Secara mental dan emosional, anak akan lebih mempersiapkan diri saat sesi belajar tiba dan tentunya lebih produktif. Selain itu dalam situasi apapun anak sudah tidak khawatir lagi dengan perubahan-perubahan ujian atau ulangan harian dari guru sewaktu-waktu, karena sudah dipersiapkan sejak awal.
             Keempat, yakinkan siswa bahwa Setiap kegiatan belajar harus memiliki tujuan yang spesifik. Belajar tanpa arahan yang jelas tidak akan efektif. Anak  perlu tahu dengan jelas apa yang dibutuhkan dalam setiap kesempatan belajar. Sebelum mulai belajar, anak perlu tahu dari tujuan belajarnya. Hal ini akan mendukung tujuan akademik secara keseluruhan. Kalau regulasi belajar sudah bisa berjalan dengan optimal maka belajar akan berhasil dan sukses.

Kelima,  Tanamkan kepada anak jangan sampai menunda belajar. Kegiatan ini penting kita lakukan. Kebanyakan anak gagal dalam belajar karena gara-gara menunda belajar. Banyak ujian dan cobaan dari anak dalam hal belajar. Jadwal yang sudah direncanakan matang, bisa berubah hanya gara-gara tanyangan televisi Ipin dan Upin. Atau bisa jadi tugas atau ada mata pelajaran lain yang tidak disenangi. Untuk itu jangan sekali-kali menunda belajar. Sekali kita menunda, seribu kesempatan akan hilang. Anak yang berhasil tidak pernah menunda waktunya untuk belajar. Penundaan hanya akan menimbulkan kekacauan dan menjadi penyebab nomor satu dari kegagalan.

Keenam,  Ajaklah anak belajar dari materi pelajaran yang paling sulit. Tugas atau pelajaran yang paling sulit akan membutuhkan usaha, mental, dan energi yang paling besar. Anak sebaiknya memulai dengan hal ini. Sekali anak bisa menyelesaikan tugas yang paling berat ini, akan lebih mudah untuk menyelesaikan tugas yang lainnya. Memulai dengan pekerjaan yang paling sulit akan membawa peningkatan yang sangat besar bagi keefektifan sesi belajar dan performa akademis anak.

Ketujuh,  Bimbinglah anak untuk selalu mereview catatan sebelum mulai mengerjakan tugas dan belajar. Hal yang pasti, sebelum anak dapat mereview catatan yang dimiliki, maka anak  harus memiliki catatan terlebih dahulu. Pastikan bahwa anak  selalu membuat catatan yang baik selama di kelas. Memperhatikan ketika guru mengajar. Sebelum memulai setiap sesi belajar dan mengerjakan tugas utama yang harus diselesaikan, pastikan anak tahu bagaimana mengerjakannya tugasnya dengan baik dan benar .

Kedelapan, arahkan anak bahwa selama belajar pastikan jangan ada gangguan. Ajaklah anak untuk belajar yang kondusif. Carilah tempat belajar yang aman dari gangguan. Sehingga belajarnya bisa konsentrasi. Ketika anak terganggu saat belajar maka itu akan membuyarkan konsentrasi dan kegiatan belajar. Wal hasil belajar menjadi tidak efektif. Bisa menghantarkan ke kegagalan. Sekali kita gagal reputasi anak akan turun. Untuk itu, hantarkan anak mencapai puncak prestasi dengan belajar yang sungguh – sungguh.

Kesembilan, Ajak anak untuk membentuk kelompok belajar yang  efektif. Pernahkah kita mendengar pepatah, “Dua kepala lebih baik daripada satu kepala?”. Pepatah ini bisa jadi benar untuk diterapkan dalam kegiatan belajar. Belajar secara kelompok akan membawa sejumlah hasil/  keuntungan, diantaranya, mendapatkan bantuan dari anak yang lain saat anak berjuang untuk memahami sebuah konsep, menyelesaikan tugas dengan lebih cepat, dan berbagi pengetahuan dengan anak-anak  lain,  yang akan membantu mereka untuk menginternalisasi masalah-masalah. Tetapi, kelompok belajar akan menjadi tidak efektif ketika kegiatan tidak terstruktur dan anggota kelompok belajar minim persiapan. Untuk itu persiapkan dan ajak anak-anak untuk mengoptimalkan kelompok belajar dengan sebaik-baiknya.
KesepuluhReview catatan dan tugas, dari setiap mata pelajaran di setiap akhir pekan. Anak  yang sukses  selalu mereview apa yang telah mereka pelajari selama seminggu di setiap akhir pekan. Cara ini akan membuat mereka mempersiapkan diri lebih baik untuk melanjutkan pembelajaran konsep-konsep baru pada pekan berikutnya. Mungkin itu ide kreatif dalam pembelajaran sebagai guru profesional yang harus kita kembangkan untuk mereformasi kelas dan sekolah kita. Yakinlah, dengan menerapkan ide yang kreatif dan inovatif ini  ini dalam belajar, akan membawa perubahan dan peningkatan yang signifikan dalam mencapai prestasi akademis seperti yang kita harapkan. Selain itu, jangan putus asa! Semoga berhasil dan sukses.

Guru Kreatif yang Inovatif

Anak adalah harapan satu-satunya bagi orang tua. Sebagian besar orang tua  menginginkan  generasi penerusnya sukses sebagaimana orang tuanya.  Bahkan lebih sukses lagi melebihi  dari apa  yang diharapkan. Melihat kenyataan sekarang  harapan orang tua seperti itu terkadang bertolak belakang dengan kenyataannya. Ada anak yang sulit sekali menerima materi pelajaran sekolah, dan ada pula anak yang cepat menerima materi pelajaran dari gurunya. Di sisi lain kita juga sering kali  mendengar pengakuan dari anak–anak secara jujur. Guru ada  yang menakutkan,membosankan,  menjengkelkan dan lain-lain. Kalau benar  yang terjadi demikian.. maka bisa jadi anak – anak di kelas hanya menemukan buku pelajaran, bangku sekolah, mencatat, dan tidak pernah menemukan media belajar. Padahal usia anak di tingkat Sekolah Dasar adalah usia pertumbuhan.

              Dalam usia pertumbuhan inilah masa usia emas untuk memacu semua aspek pribadi anak antara lain fisik, psikis, mental, dan spiritual yang bermutu. Sehingga Jangan sampai berhari-hari rutinitas yang dilakukan  anak-anak,  Pertama, hanya menulis, membaca buku, dan mendengarkan guru berceramah. Sementara itu hal–hal yang dibutuhkan anak justru tidak didapat. Seperti membongkar, membangun, bereksperimen, merancang, merencanakan, berkomunikasi serta memecahkan masalah. Anak tidak bisa menikmati lezatnya belajar. Kedua, setiap hari guru seringkali meninggalkan kelas. Guru hanya memberi tugas, PR, menagih tugas, sambil marah, dan sebagainya. Tentu suasana yang seperti itu dirasa anak kurang nyaman tidak bisa menikmati. Sekolah sudah  kehilangan maknanya sebagai wahana pendewasaan bagi seluruh penghuni di dalamnya. Serta penanaman ide, gagasan, dan kreatifitas otoritas-otoritas yang bersinggungan dengan keberadaannya.

Kalau yang terjadi sudah seperti itu,  berarti tidak ada  bedanya sekolah dengan penjara. Ruang-ruang kelas bagi siswa, lebih mirip dengan kerangkeng. Pintu-pintu  yang tertutup ketika pelajaran berlangsung, akan merusak cakrawala optik alternatif, bangku-bangku yang memaku tubuh anak-anak menyebabkan  sedikitpun anak tidak bisa bergerak, dan guru-guru mirip sipir penjara, marah jika dikritik, menolak jika ada usulan, membentak jika ada kesalahan, bahkan memukul ketika ada yang dirasanya pantas dipukul. Sehingga wajar ketika anak mendengar bel pulang berbunyi, apa yang terjadi? Anak langsung bersorak sorei “ Hore aku bebas “ mungkin itu yang akan diucapkan anak ketika keluar dari kelasnya .

Gambaran sekolah yang demikian dirasakan oleh anak kurang menginspirasi dan membosankan. Untuk itu  keadaan yang seperti ini tidak boleh dibiarkan berlarut. Harus kita rubah strategi, model, dan pola pikir kita untuk menghantarkan anak  sukses. Kita sebagai guru yang Profesional harus segera mengambil langkah yang cepat, tepat, akurat, dan kreatif. Dalam media KOMPAS.com  disampaikan bahwa Seorang guru harus bisa membangun iklim komunikasi yang baik dengan siswanya, agar para siswa mengerti apa yang disampaikan, dan membuat aktivitas belajar berjalan  menjadi lebih efektif, kreatif,  dan menginspirasi.

Untuk itu ada beberapa ide kreatif solusi untuk menghantarkan siswa sukses dalam belajar sesuai yang diharapkan. Pertama, guru jangan pernah mencoba menekan anak untuk memaksakan belajar dalam satu sesi. Kita ingat bahwa setiap anak sudah mempunyai pola belajar masing- masing. Seorang guru meluruskan dan memberi motivasi saja. Mungkin anak-anak ada yang belajarnya mempunyai waktu yang lama, namun tidak efektif dan ada anak yang mempunyai waktu belajarnya sedikit, namun efektif. Maka anak akan lebih berhasil yang  waktu belajarnya sedikit tapi lebih efektif, dibandingkan dengan watunya lama tapi tidak efektif. Namun tidak menutup kemungkinan lebih berhasil lagi kalau kita mempunyai waktu belajar yang lama semuanya efektif sehingga belajarnya lebih sukses dan berhasil. Selain itu, luangkan waktu belajar setiap saat dan jangan memaksakan mempelajari seluruhnya dalam satu atau dua sesi. Kuncinya, belajarlah dengan konsisten dan lakukan secara reguler meskipun dalam waktu singkat.

              Kedua,  Bikinkan anak rencana belajar yang harus diketahui oleh orang tuanya. Guru dan orang tua membuat kesepakatan yang jelas dan terprogram. Untuk itu, buatkan jadwal harian dengan waktu yang spesifik selama sepekan. Semuanya ( anak, orang tua, dan guru) harus mematuhi kesepakatan yang dibuat berdasarkan jadwal yang sudah ditentukan. Dan cobalah untuk tegas dengan jadwal yang telah disepakati bersama. Mereka yang belajar secara sporadis, pasti dalam waktu dekat dengan menerapkan jadwal secara disiplin seperti di atas pasti akan berubah total. Dan tidak lama akan kita ketahuihasilnya.
             Ketiga, ajaklah anak belajar  pada waktu yang sama. Tidak cukup hanya dengan merencanakan jadwal kapan anak harus belajar saja tetapi, anak juga harus belajar secara  konsisten dengan rutinitas belajar harian. Ketika anak  belajar pada waktu yang sama setiap hari dan setiap minggu, maka hal itu akan menjadi bagian yang rutin dalam kehidupan anak. Secara mental dan emosional, anak akan lebih mempersiapkan diri saat sesi belajar tiba dan tentunya lebih produktif. Selain itu dalam situasi apapun anak sudah tidak khawatir lagi dengan perubahan-perubahan ujian atau ulangan harian dari guru sewaktu-waktu, karena sudah dipersiapkan sejak awal.
             Keempat, yakinkan siswa bahwaSetiap kegiatan belajar harus memiliki tujuan yang spesifik. Belajar tanpa arahan yang jelas tidak akan efektif. Anak  perlu tahu dengan jelas apa yang dibutuhkan dalam setiap kesempatan belajar. Sebelum mulai belajar, anak perlu tahu dari tujuan belajarnya. Hal ini akan mendukung tujuan akademik secara keseluruhan. Kalau regulasi belajar sudah bisa berjalan dengan optimal maka belajar akan berhasil dan sukses.

Kelima,  Tanamkan kepada anak jangan sampai menunda belajar. Kegiatan ini penting kita lakukan. Kebanyakan anak gagal dalam belajar karena gara-gara menunda belajar. Banyak ujian dan cobaan dari anak dalam hal belajar. Jadwal yang sudah direncanakan matang, bisa berubah hanya gara-gara tanyangan televisi Ipin dan Upin. Atau bisa jadi tugas atau ada mata pelajaran lain yang tidak disenangi. Untuk itu jangan sekali-kali menunda belajar. Sekali kita menunda, seribu kesempatan akan hilang. Anak yang berhasil tidak pernah menunda waktunya untuk belajar. Penundaan hanya akan menimbulkan kekacauan dan menjadi penyebab nomor satu dari kegagalan.

Keenam,  Ajaklah anak belajar dari materi pelajaran yang paling sulit. Tugas atau pelajaran yang paling sulit akan membutuhkan usaha, mental, dan energi yang paling besar. Anak sebaiknya memulai dengan hal ini. Sekali anak bisa menyelesaikan tugas yang paling berat ini, akan lebih mudah untuk menyelesaikan tugas yang lainnya. Memulai dengan pekerjaan yang paling sulit akan membawa peningkatan yang sangat besar bagi keefektifan sesi belajar dan performa akademis anak.

Ketujuh,  Bimbinglah anak untuk selalu mereview catatan sebelum mulai mengerjakan tugas dan belajar. Hal yang pasti, sebelum anak dapat mereview catatan yang dimiliki, maka anak  harus memiliki catatan terlebih dahulu. Pastikan bahwa anak  selalu membuat catatan yang baik selama di kelas. Memperhatikan ketika guru mengajar. Sebelum memulai setiap sesi belajar dan mengerjakan tugas utama yang harus diselesaikan, pastikan anak tahu bagaimana mengerjakannya tugasnya dengan baik dan benar .

Kedelapan, arahkan anak bahwa selama belajar pastikan jangan ada gangguan. Ajaklah anak untuk belajar yang kondusif. Carilah tempat belajar yang aman dari gangguan. Sehingga belajarnya bisa konsentrasi. Ketika anak terganggu saat belajar maka itu akan membuyarkan konsentrasi dan kegiatan belajar. Wal hasil belajar menjadi tidak efektif. Bisa menghantarkan ke kegagalan. Sekali kita gagal reputasi anak akan turun. Untuk itu, hantarkan anak mencapai puncak prestasi dengan belajar yang sungguh – sungguh.

Kesembilan, Ajak anak untuk membentuk kelompok belajar yang  efektif. Pernahkah kita mendengar pepatah, “Dua kepala lebih baik daripada satu kepala?”. Pepatah ini bisa jadi benar untuk diterapkan dalam kegiatan belajar. Belajar secara kelompok akan membawa sejumlah hasil/  keuntungan, diantaranya, mendapatkan bantuan dari anak yang lain saat anak berjuang untuk memahami sebuah konsep, menyelesaikan tugas dengan lebih cepat, dan berbagi pengetahuan dengan anak-anak  lain,  yang akan membantu mereka untuk menginternalisasi masalah-masalah. Tetapi, kelompok belajar akan menjadi tidak efektif ketika kegiatan tidak terstruktur dan anggota kelompok belajar minim persiapan. Untuk itu persiapkan dan ajak anak-anak untuk mengoptimalkan kelompok belajar dengan sebaik-baiknya.
KesepuluhReview catatan dan tugas, dari setiap mata pelajaran di setiap akhir pekan. Anak  yang sukses  selalu mereview apa yang telah mereka pelajari selama seminggu di setiap akhir pekan. Cara ini akan membuat mereka mempersiapkan diri lebih baik untuk melanjutkan pembelajaran konsep-konsep baru pada pekan berikutnya. Mungkin itu ide kreatif dalam pembelajaran sebagai guru profesional yang harus kita kembangkan untuk mereformasi kelas dan sekolah kita. Yakinlah, dengan menerapkan ide yang kreatif dan inovatif ini  ini dalam belajar, akan membawa perubahan dan peningkatan yang signifikan dalam mencapai prestasi akademis seperti yang kita harapkan. Selain itu, jangan putus asa! Semoga berhasil dan sukses.