Artikel Edisi 2 Tahun 2012

NILAI UN RENDAH SALAH SIAPA ?

 

Oleh: YADI,S.Pd

SDN  Banjarpanjang 1

 

 

Pada akhir tahun, saat selesai kesibukan ujian sekolah dan ujian nasional biasanya ada isu yang ramai di bicarakan oleh kalangan guru, orang tua dan kalangan pendidikan pada umumnya, yaitu masalah perolehan nilai UN. Ada satu kebiasaan yang negatif sekitar perolehan nilai UN ini, ada kesibukan baru utamanya bagi sekolah atau orang tua yang kebetulan putra-putrinya memperoleh nilai UN rendah. Kebiasaan negatif itu adalah : Mencari kambing hitam.

Sebuah sekolah yang memperoleh nilai UN redah kadang-kadang sibuk mencari-cari kambing hitam, gurukah, anakkah, atau orang tua. Begitu pula orang tua yang kurang menyadari keadaan dan kemampuan putra-putrinya, kadang-kadang dengan seenaknya mengatakan : memang gurunya bego, guru kurang layak, dan sebagainya. Lebih parah lagi bila yang terjadi kemudian saling tuding dan saling lempar tanggung jawab antara keluarga sekolah. Kepala sekolah menuding guru kurang profesional, guru menuding kepala sekolah kurang tanggung jawab, sedangkan guru yang lain tambah memanas – manasi suasana dengan jalan bisik-bisik dan rasan-rasan. Maka klop sudah, untuk menciptakan suasana panas seperti bara yang menganga di sebuah sekolah cerai berai.

Saking semangatnya mencari kambing hitam, kadang-kadang sampai lupa persoalan sebenarnya. Yang dicari bukannya mengapa sampai mendapat nilai UN rendah, tapi siapa yang patut disalahkan sehingga mendapat nilai UN rendah.

Ya, apa boleh buat, sampai saat ini pandangan umum yang berlaku adalah, bahwa sekolah yang bermutu adalah sekolah yang dapat mencapai nilai UN tinggi di akhir tahun, dan kelak sekolah ini akan menjadi sekolah FAVORIT. Sedangkan sekolah yang tak menghasilkan nilai UN tinggi dianggap sebagai sekolah yang tak masuk hitungan.

Itulah yang menjadi kenyataan di masyarakat. Betapapun megahnya gedung sekolah, padatnya kegiatan kegiatan-kegiatan ekstra kurikuler, namun apabila perolehan nilai UN rendah, maka masyarakat menilai rendah pula mutu sekolah tersebut.

Bertolak dari pandangan itulah, kemudian berbagai upaya dilakukan, baik oleh sekolah maupan oleh orang tua murid. Dari pihak sekolah ada yang ngebut menyelesaikan materi dalam kurikulum sehingga untuk SD pada akhir semester 2 diusahakan seluruh materi telah tersampaikan, menambah jam pelajaran baik pagi ataupun sore. Berusaha memberi berbagai macam kumpulan soal dari berbagai penerbit disamping segudang arsip sekolah sendiri yang kemudian dijejalkan kepada anak.

Praktis hampir tiap hari anak-anak bergelut berbagai macam soal, kadang juga menjemukan. Dari pihak orang tua, biasanya berusaha mendatangkan guru privat, ada yang mengatur jadwal dengan ketat belajar putra – putrinya, yang kadang-kadang malah terkesan “ MERAMPAS” kreativitas anak.

 

FAKTOR KETERBATASAN         

Bahwa pendidikan hakekatnya hanyalah berupa bantuan belaka. Dengan demikian berarti bahwa dalam diri anak didik sudah ada potensi untuk mengembangkan dirinya. Hanya saja potensi itu perlu dibantu dan diarahkan agar dapat berkembang sesuai dengan cita-cita pendidikan. Dengan demikian maka kemampuan pendidikan itu tidak mutlak, melainkan mempunyai batas-batas tertentu dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu : 1. Faktor anak didik, 2. Faktor pendidik, 3. Faktor lingkungan.

A. FAKTOR ANAK DIDIK

Seperti disebutkan di muka bahwa pendidikan hakekatnya adalah bantuan yang diberikan kepada anak didik agar berkembang sebagai mana mestinya. Dalam diri anak sudah ada potensi-potensi untuk berkembang yang satu sama lain berbeda, baik dalam kualitas maupun kecenderungan. Dengan demikian, seorang anak yang kurang berpotensi dalam ilmu-ilmu sosial umpamanya, maka biarpun mendapat bantuan yang baik, potensi itupun tak mungkin dapat berkembang secara maksimal sesuai dengan yang diharapkan. Tetapi apabila anak memang mempunyai potensi yang baik dalam ilmu-ilmu sosial, potensi itu akan berkembang dengan sebaik-baiknya.

Seorang guru biar bagaimanapun pandainya, tak akan mungkin dapat mengubah anak yang potensi daya pikirnya lemah menjadi anak yang cerdas atau brillian.

 

B.  FAKTOR PENDIDIK 

Pendidik adalah manusia biasa yang pasti mempunyai kekurangan dan kelebihan yang tidak sama antara yang satu dengan yang lain. Dengan demikian cara dan gaya guru mengajar, kemampuan intelektual, luas dan tidaknya wawasan guru ,juga sangat berpengaruh terhadap murid-murid yang diajarnya.

C.FAKTOR LINGKUNGAN

Lingkungan di mana anak berada tentu sangat berpengaruh terhadap hasil pendidikan dan pengajaran. Lingkungan dapat berpengaruh positif atau negatif. Lingkungan yang kotor, becek, di tambah lampu penerangan yang  kurang memadai tentu akan berbeda pengaruhnya dengan lingkungan yang bersih, indah, di tambah penerangan yang memadai. Lingkungan yang berupa tingkah laku  manusia juga merupakan faktor yang mempengaruhi keberhasilan pendidikan.

 

USAHA MENINGKATKAN NILAI UN

Seperti telah disebutkan di muka, usaha-usaha meningkatkan nilai UN selama ini telah banyak dilakukan, meski kadang-kadang terkesan memaksa dan merampas dunia anak-anak. Dalam tulisan ini, penulis mencoba memberikan alternatif lain, yang tampaknya lebih sistimatis dan berusaha menghilangkan kesan memaksa anak maupaun guru dalam rangka mengajar perolehan yang tinggi: mengefektifkan hari efektif, memfungsikan perpustakaan sekolah serta mengintensifkan pengajaran membaca dan berhitung permulaan.

 

  1. 1.    MENGEFEKTIFKAN HARI EFEKTIF

Upaya yang dirasa sangat sistimatis dan tidak memaksa,untuk mencapai nilai UN yang tinggi adalah menefektifkan hari efektif. Artinya, hari-hari efektif  yang telah di tentukan hendaknya dipergunakan semaksimal mungkin untuk hanya kegiatan belajar mengajar.

Mempergunakan sebaik-baiknya hari efektif, berarti  tidak menyia-nyiakan sedikitpun waktu. Kebiasaan jelek sebagian kita pada umumnya adalah mengulur-ulur  waktu istirahat , mempersiang waktu masuk dak memperpagi waktu pulang. Semoga dengan usaha ini akan berhasil.

Mengefektifkan hari efektif bukan hanya untuk guru kelas enam saja, namun harus dapat dilakukan oleh segenap warga sekolah, karena perolehan nilai UN sebenarnya bukan hanya bergantung ketika murid sudah kelas enam, tetapi sesungguhnya saling berkait erat sejak anak mulai kelas satu dan di kelas-kelas berikutnya.

 

2.MEMFUNGSIKAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH

Hampir di setiap SD, saat ini sudah ada perpustakaan. Tapi, nampaknya sebagian besar SD belum dapat memanfaatkan perpustakaan tersebut  sebaik-baiknya untuk kepentingan belajar. Untuk memanfaatkan perpustakaan tersebut, guru memberi tugas pada anak didik untuk mencari di perpustakaan membuat laporan yang ditugaskan oleh guru.

Bahkan ada beberapa SD yang buku-buku perpustakaannya sudah beberapa tahun masih kelihatan baru. Hal ini memang berkait  erat dengan tugas guru yang memang sudah cukup banyak. Apabila guru masih dibebani tugas perpustakaan, tentu akan terasa semakin berat.

Namun demikian kiranya perpustakaan tersebut dapat dikelola secara sederhana  dan kolektif, dengan titik berat bahwa buku-buku yang ada di perpustakaan harus dibaca dan dimanfaatkan oleh murid.

Apalagi di perpustakaan SD banyak sekali buku-buku selain fiksi juga buku-buku ilmu pengetahuan baik IPA, IPS, Matematika, maupun pengetahuan-pengetahuan  yang lain  tentu sangat membantu anak dalam upaya memperoleh nilai UN yang tinggi.

3.MENGINTENSIFKAN PENGAJARAN MEMBACA DAN BERHITUNG

Kata orang, buku adalah jendela dunia dan membaca adalah kuncinya. Karena itu pelajaran membaca di SD mempunyai makna yang cukup penting. Untuk itu perlu diintensifkan pengajaran membaca utamanya di kelas 1 dan 2. Di kelas inilah guru harus berupaya agar anak-anak bisa membaca dengan baik. Pendekatan yang bagaimana yang sekiranya cocok serta” METODE “ apa yang dapat merangsang anak agar tertarik untuk dapat membaca dengan baik perlu diupayakan dan dicoba terus menerus.

Sedangkan untuk membantu memahami Matematika anak-anak  perlu diajar berhitung dengan matang.  Pelajaran inipun kuncinya ada di kelas rendah, utamanya di kelas 3 berupa hafalan-hafalan perkalian, pembagian dan sebagainya. Guru harus menguasai metode yang akan diajarkan pada anak didik. Sehingga anak didik mudah memahami materi yang diajarkan oleh guru.

Masih banyak upaya-upaya lain yang dapat dilaksanakan. Namun, apabila beberapa hal yang telah penulis kemukakan dimuka dapat dilaksanakan dengan baik , barangkali guru kelas 6 SD tak usah terlalu” NGOYO “  di akhir tahun dengan cara les pagi, sore, atau menteter anak-anak dengan ribuan soal yang kerapkali sampai membosankan dan terkesan merampas waktu bermain anak.

Betapapun, bersiap-siap sejak dini anak lebih baik dari pada harus” ngoyo” di kemudian hari.

Dan apabila yang rasanya terbaik sudah kita lakukan, dan ternyata nilai UN yang kita peroleh masih juga rendah, lantas siapa yang perlu dikambing hitamkan atau disalahkan.  Ya,  tak usah cari KAMBING HITAM, toh kambing putih masih banyak kita jumpai. OKE 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s