Edisi 2 Tahun 2012

MENUJU SEKOLAH IDAMAN MASYARAKAT CERDAS

Oleh : Mugi Lestari

Kepala SDN Banjarejo 2

Lonceng pergantian tahun pelajaran 2012 / 2013 telah bergema di pendengaran masyarakat luas, terutama orang tua yang mempunyai putra putri yang memasuki  usia sekolah, sudah mempersiapkan diri untuk menyambutnya. Mulai persiapan mental, spiritual maupun  materiil, bahkan dengan rela menjual sebagian harta benda yang dimilikinya ( katakan hewan piaraan, maupun hasil panen ) yang orang tuanya petani, swasta dengan kategori menengah ke bawah.  Lain dengan golongan kaum atas, tinggal mengambil dana tabungan yang memang sudah dipersiapkan sebelumnya.

Semua itu adalah salah satu usaha masyarakat, kepada putra-putrinya berkesempatan  untuk bisa  mengenyam pendidikan demi masa depan pribadi maupun bangsa. Jika  sarana dan prasarana sudah tersedia orang tua tinggal memilih sekolah atau lembaga pendidikan yang cocok untuk putra-putrinya. Perlu  diketahui masyarakat berhak penuh untuk memilih sekolah yang favorit tidak asal memilih, kadang ada sekolah yang cara menggaet siswa dengan diberi sebagian fasilitas, tapi itu hanya pemenuhan sesaat .

Orang tua semakin cerdas dalam memlih lembaga pendidikan yang benar-benar dapat memproses putra-putrinya dengan metode yang sesuai, dan beberapa pertimbangan lainnya. Walaupun lokasi sekolah jauh dari tempat tinggal siswa didik, orang tua dengan sabar mengantar dan menjemputnya. Dengan berbagai macam  gambaran selera masyarakat untuk mencari pelayanan pendidikan yang maksimal .

Sekarang bagaimana dengan kita selaku penyelenggara pendidikan sekaligus praktisi pendidikan dalam menyikapi dan mensolusinya ? Untuk dapat mempertahankan kepercayaa kita kepada masyarakat dan diidolakan masyarakat luas tanpa ada mereka – mereka kita semakin tak berarti . Ada beberapa solusi yang mungkin dapat menjadi daya tarik diantaranya dari segi sarana prasarana , organisasi,  tenaga pendidik , proses kegiatan belajar mengajar (KBM ) adanya wadah penyaluran pengembangan bakat minat siswa ,hubungan masyarakat , kerja sama dsb . Dengan terselenggaranya proses pendidikan yang baik adalah merupakan penampilan yang dapat merebut hati masyarakat cerdas. Di samping gedung sekolah yang kokoh dipandang dari luar dan dalam membuat seluruh anggota sekolah aman dan nyaman, yang tidak kalah pentingnya mengikuti perkembangan jaman berwawasan luas jauh ke depan, terutama bidang IT ( tehnologi informasi ) dan pengembangan lain guna menunjang PBM. Kreatif inisiatif dalam mengolah kurikulum , sebaik apapun  KKM tapi kalau pelaksanaan tidak ada integrasi dengan ilmu lain hasil nonsense maka mau tidak mau kita harus bisa melayani masyarakat sebagai konsumen pendididikan

Sekolah sebagai tempat pengembang bakat minat ( EQ dan SQ ) maka harus menyediakan fasilitas  demi pengembangan bakat non akademis melalui kegiatan ekstrakurikuler  . Membina hubungan dengan masyarakat dan instansi yang terkait serta tokoh masyarakat yang dapat dijadikan sebagai nara sumber, gotong-royong demi kemajuan dan keberhasilan pendidikan . Percayalah kalau lembaga kita dapat memenuhi keinginan masyarakat, kepercayaan terhadap kita, tidak akan berpaling dan mendapatkan jumlah peserta didik baru yang maksimal .

Mengapa harus mempertahankan kepercayaan dan menjaga penampilan, karena masyarakat semakin kritis, pandai serta jeli dalam memenuhi hak – haknya. Dalam era sekarang ditinjau dari latar belakang pendidikan orang tua calon siswa yang notabene minimal tamatan SMA sederajat, tidak seperti lima tahun sebelumnya masih banyak orang tua siswa yang berijasah SD bahkan ada yang buta aksara sehingga dalam memilih sekolah seadanya. Dengan dasar  yang semakin cerdas maka orang tua calon siswapun berprinsip “yang bodoh biar  orang tuanya saja , tapi anaknya harus cerdas melebihi orang tuanya “ berdasarkan pengalaman orang tuanya bahwa yang berpendidikan tinggi katakan pandai, hidupnya akan mapan

Di sini orang tua tetap akan menyiapkan putranya pada kehidupan yang layak dengan modal kepandaian menuju kesuksesan. Untuk dapat menjawab persoalan – persoalan tersebut maka sekolah harus benar – benar berani mengambil sikap ( dalam arti berani bersaing dengan sekolah lain ) dan tampil beda yang dapat membawa perubahan kearah kemajuan atau PLUS…PLUS . Supaya lebih dikenal masyarakat luas dengan tips – tips diantaranya sekolah sering melakukan kegiatan – kegiatan yang menampilkan siswanya , sosialisasi terhadap orang tua siswa ketika penerimaan rapor dan pada siswa kelas 6 yang akan melanjutkan sekolah kejenjang yang lebih tinggi, membuat selebaran / brossur yang memuat  tentang beberapa prestasi yang telah diraih siswa maupun sekolah , pendekatan ke orang tua siswa maupun guru – guru Taman Kanak – Kanak ( TK ) , menampilkan siswa – siswa yang telah diterima di SMP favorit .  Juga dapat merekrut calon – calon peserta  didik baru yang kurang mampu ( ekonomi ), serta membantu siswa pandai,  yang kurang mampu dan masih duduk di bangku sekolah tersebut .

Sering mengadakan beberapa perlombaan, unjuk seni dalam rangka tutup tahun   Peringatan Hari besar Agama maupun  Peringatan Hari Besar Nasional lainnya . Ditambah ke ramah tamahan para pendidik, rasa aman , kasih sayang serta perhatian  tanpa membedakan siswa yang satu dan yang lainnya.

Alangkah tidak baiknya jika sekolah tidak mendapatkan peserta didik baru, ya memang dari segi kependudukan program Keluarga Berencana ( KB ) berhasil tapi di sisi lain mungkin lunturnya kepercayaan masyarakat pada lembaga pendidikan .  Apabila program di sekolah sudah banyak  diketahui,  peminat akan berdatangan untuk mendaftar menjadi peserta didik baru . Apalagi sekarang sudah banyak sekolah yang melaksanakan TES dalam penerimaan peserta didik baru, bukan berarti yang kurang/ tidak mampu ditolak ! bukan, tapi sebenarnya sekolah membantu memudahkan guru mengetahui sejauh mana kemampuan siswa secara dini.  Dan yang kurang mampu besuknya akan ditambah jam – jam belajar di sekolah yang mempunyai bakat akan cepat terpantau sehingga dengan mudah pendidik dalam membimbing mengarahkan sesuai bakatnya .

Demikian sekilas tentang trik bagaimana menjadi pelayan masyarakat yang baik dalam bidang pendidikan yang sesuai dengan keinginan masyarakat, Insya Allah kita bisa mempertahankan kepercayaan masyarakat pada kita semua ( selaku penyelenggara pendidikan ) . Yang selalu membawa perubahan dan peningkatan untuk mengantarkan siswa – siwa kita khususnya dan anak –anak bangsa pada umumnya . Mari kita bersaing sehat dalam rangka mencetak Tunas – tunas bangsa menuju  Indonesia Emas yang menjadi harapan, demi masa depan Bangsa Indonesia tercinta .

PERLUKAH, EVALUASI DIRI SEKOLAH?

Drs. Suwito

Kepala SDN Ngariboyo 1

Evaluasi Diri Sekolah (EDS)  di tiap sekolah menjadi tanggung jawab kepala sekolah dan dilakukan oleh Tim Pengembang Sekolah  (TPS) yang terdiri dari Kepala Sekolah, guru, Komite Sekolah, orang tua peserta didik, dan pengawas. Proses EDS dapat mengikutsertakan tokoh masyarakat atau tokoh agama setempat. Instrumen EDS ini khusus dirancang  untuk digunakan oleh TPS dalam melakukan penilaian  kinerja sekolah terhadap 8 Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang hasilnya menjadi  masukan dan dasar penyusunan  Rencana  Pengembangan Sekolah (RPS) dalam upaya peningkatan kinerja sekolah.  EDS sebaiknya dilaksanakan setelah anggota TPS mendapat pelatihan.

 Informasi ringkas tentang EDS dapat dilihat di bawah ini:

  1. 1.    Apakah yang dimaksud dengan Evaluasi Diri Sekolah?

Evaluasi diri sekolah adalah proses yang mengikutsertakan semua pemangku kepentingan  untuk membantu sekolah dalam menilai mutu penyelenggaraan pendidikan berdasarkan indikator-indikator kunci yang mengacu pada 8 Standar Nasional Pendidikan (SNP).

Melalui EDS kekuatan dan kemajuan sekolah dapat diketahui dan aspek-aspek yang memerlukan peningkatan dapat diidentifikasi.

Proses evaluasi diri sekolah merupakan siklus,  yang dimulai dengan pembentukan TPS, pelatihan penggunaan angket/ Instrumen, pelaksanaan EDS di sekolah dan penggunaan hasilnya sebagai dasar penyusunan RPS/RKS dan RAPBS/ RKAS.

TPS mengumpulkan informasi dari berbagai sumber untuk menilai kinerja sekolah berdasarkan indikator-indikator yang dirumuskan dalam Instrumen. Kegiatan ini melibatkan semua  pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah  untuk memperoleh informasi dan pendapat dari seluruh pemangku kepentingan sekolah.

EDS juga akan melihat  visi dan misi sekolah. Apabila sekolah belum memiliki visi dan misi, maka  diharapkan kegiatan ini akan memacu sekolah membuat atau memperbaiki visi dan misi dalam mencapai  kinerja sekolah yang diinginkan.

Hasil EDS digunakan sebagai bahan untuk menetapkan aspek  yang menjadi prioritas dalam rencana peningkatan dan pengembangan sekolah pada RPS/RKS dan RAPBS/RKAS.

Laporan hasil EDS digunakan oleh Pengawas untuk kepentingan Monitoring Sekolah oleh Pemerintah Daerah (MSPD) sebagai bahan penyusunan perencanaan pendidikan pada tingkat kabupaten/kota.

  1. 2.    Apa yang diperoleh sekolah dari hasil EDS?

Seberapa baik kinerja sekolah? Dengan EDS akan diperoleh informasi  mengenai pengelolaan sekolah yang telah memenuhi SNP untuk digunakan sebagai dasar penyusunan RPS/RKS dan RAPBS/RKAS.

Bagaimana mengetahui kinerja sekolah sesungguhnya? Dengan EDS akan diperoleh informasi tentang kinerja sekolah yang sebenarnya dan informasi tersebut diverifikasi dengan bukti-bukti fisik yang sesuai.

Bagaimana memperbaiki kinerja sekolah? Sekolah menggunakan informasi yang dikumpulkan dalam EDS untuk menetapkan apa yang menjadi prioritas bagi peningkatan sekolah dan digunakan untuk mempersiapkan RPS/RKS dan RAPBS/RKAS.

  1. 3.    Keuntungan apa yang akan diperoleh sekolah dari EDS? 

Sekolah mampu mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya sebagai dasar penyusunan rencana pengembangan lebih lanjut. Sekolah mampu mengenal peluang untuk memperbaiki mutu pendidikan,  menilai keberhasilan  upaya peningkatan, dan melakukan penyesuaian program-program yang ada.

Sekolah mampu mengetahui tantangan yang dihadapi dan mendiagnosis jenis kebutuhan yang diperlukan untuk perbaikan. Sekolah dapat mengetahui tingkat pencapaian kinerja berdasarkan 8 SNP.

Sekolah dapat menyediakan laporan resmi kepada para pemangku kepentingan tentang kemajuan dan hasil yang dicapai.

4.    Seberapa sering sekolah melakukan EDS? 

Sekolah melakukan proses EDS setiap tahun sekali.

  1. 5.    Bagaimana bentuk Instrumen EDS?

Instrumen EDS terdiri dari 8 (delapan) bagian sesuai  dengan 8 SNP. Setiap bagian terdiri atas :

  1. Serangkaian pertanyaan terkait dengan SNP sebagai dasar bagi sekolah dalam memperoleh informasi kinerjanya  yang bersifat kualitatif. Setiap standar bisa terdiri dari beberapa aspek  yang memberikan gambaran lebih menyeluruh .
  2. Setiap aspek dari standar terdiri dari 4 tingkat pencapaian : tingkat pencapaian 1 berarti kurang, 2 berarti sedang, 3 berarti baik, dan 4 berarti amat baik.
  3. Tiap tingkatan pencapaian mempunyai beberapa indikator.
  4. Pada bagian akhir dari aspek setiap standar, terdapat halaman rekapitulasi untuk menuliskan hasil penilaian pencapaian yang diperoleh. Halaman rekapitulasi ini terdiri dari bukti fisik yang menguatkan pengakuan atas tingkat pencapaian, deskripsi umum temuan yang diperoleh untuk menilai aspek tersebut, dan penentuan tingkat pencapaian kinerja sekolah.
  5. Sejumlah pertanyaan terkait dengan 8 SNP yang paling erat hubungannya dengan mutu pembelajaran dan aspek-aspek yang perlu dikembangkan  bagi keperluan penyusunan rencana peningkatan sekolah.
  6. Tingkat pencapaian pada tiap Standar dalam Instrumen ini dapat digunakan sekolah untuk menilai kinerjanya pada standar tertentu.
  7. 6.    Bagaimana sekolah menggunakan tingkat pencapaian?

Anggota TPS secara bersama mencermati Instrumen EDS pada setiap aspek dari setiap standar. Sebaiknya perlu disiapkan peraturan menteri, indikator atau peraturan pemerintah yang berkaitan dengan SNP sebagai rujukan.

Berdasarkan kondisi nyata sekolah, anggota TPS menilai apakah sekolah mereka termasuk dalam tingkatan 1, 2, 3 atau 4 dalam pencapaian 8 SNP ini. Misalnya pada Standar Isi ada aspek kesesuaian dan relevansi kurikulum serta aspek penyediaan kebutuhan untuk pengembangan diri. Bisa saja aspek kesesuaian dan relevansi kurikulum berada di tingkat 4, tapi aspek kebutuhan untuk pengembangan diri ada di tingkat 2.  Ini tidak menjadi masalah.  Tingkat pencapaian  pada setiap standar  menggambarkan keadaan seperti apa kondisi kinerja sekolah pada saat dilakukan penialian  terkait dengan pertanyaan tertentu.

Setelah menentukan tingkat pencapaiannya, sekolah perlu menyertakan bukti fisik atas pengakuannya. Contoh bukti fisik atas keikutsertaan masyarakat dalam kehidupan sekolah berupa rapat komite sekolah, notulen, daftar hadir, dan undangan.

Hasil semua penilaian dan penentuan tingkat pencapaian kinerja sekolah untuk aspek tertentu pada setiap standar ditulis pada lembar laporan penilaian atau rekapitulasi dengan menyertakan bukti fisik yang sesuai (lihat keterangan pada nomor 5 di atas).

Sekolah menetapkan tingkat pencapaian kinerja dan bukan hanya sekedar memberikan tanda cek (contreng) pada setiap butir dalam Instrumen EDS.

Tingkat pencapaian kinerja sekolah bisa berbeda dalam aspek yang berbeda pula. Hal ini penting sebab sekolah harus memberikan laporan kinerja apa adanya. Dalam pelaksanaan EDS yang dilakukan setiap tahun, sekolah mempunyai dasar nyata  aspek dan standar yang memerlukan perbaikan secara terus-menerus.

Dengan menggunakan Instrumen EDS ini,  sekolah dapat mengukur dampak kinerjanya terhadap pembelajaran peserta didik. Sekolah juga dapat memeriksa hasil dan tindak lanjutnya terhadap perbaikan layanan pembelajaran yang diberikan  dalam memenuhi kebutuhan pembelajaran peserta didik.

7.    Jenis bukti apa yang dapat ditunjukkan?

Bukti fisik yang menggambarkan tingkat pencapaian harus sesuai dengan aspek atau standar yang dinilai. Untuk itu perlu dimanfaatkan berbagai sumber informasi yang dapat dijadikan sebagai bukti fisik misalnya kajian catatan, hasil observasi, dan hasil wawancara/konsultasi dengan pemangku kepentingan seperti komite sekolah, orang tua, guru-guru, siswa, dan unsur lain yang terkait.

Perlu diingat bahwa informasi kualitatif yang menggambarkan kenyataan dapat berasal dari informasi kuantitatif. Sebagai contoh, Rencana Pelaksanaan Pengajaran (RPP) tidak sekedar merupakan catatan mengenai bagaimana pengajaran dilaksanakan. Keberadaan dokumen kurikulum bukan satu-satunya bukti bahwa kurikulum telah dilaksanakan.

Berbagai jenis bukti fisik dapat digunakan sekolah sebagai bukti tingkat pencapaian tertentu. Selain itu, sekolah perlu juga menunjukkan sumber bukti fisik lainnya yang sesuai.

  1. 8.    Bagaimana proses EDS membantu penyusunan rencana pengembangan sekolah?

TPS menganalisis informasi yang dikumpulkan, menggunakannya untuk mengidentifikasi dan menetapkan prioritas yang selanjutnya menjadi dasar penyusunan RPS/RKS dan RAPBS/RKAS.

Berdasarkan hasil EDS, sekolah mengembangkan RPS dengan prioritas peningkatan mutu kinerja sekolah yang dirumuskan secara jelas, dapat diobservasi dan diukur.  Dengan demikian, RPS menjadi dokumen kinerja sekolah yang meliputi aspek implementasi, skala prioritas, batas waktu, dan ukuran keberhasilannya.

Proses EDS berkaitan dengan aspek perubahan dan peningkatan. Upaya perubahan dan peningkatan tersebut hanya bermanfaat apabila diwujudkan dalam perencanaan bagi peningkatan mutu pendidikan dan hasil belajar  peserta didik. Diharapkan dengan adanya ragam data dan informasi yang diperoleh dari hasil EDS, sekolah bukan saja dapat merumuskan perencanaan pengembangan dengan tepat, akan tetapi penilaian kemajuan di masa depan juga akan lebih mudah dilakukan dengan tersedianya data yang dapat dipercaya. Hal tersebut dengan sendirinya memudahkan sekolah untuk menunjukkan hasil-hasil upaya peningkatan mereka setiap saat.

  1. 9.    Laporan apa yang perlu disiapkan? 

Sekolah menyusun laporan hasil EDS dengan menggunakan format yang terpisah, yang menyajikan tingkat pencapaian serta bukti-bukti yang digunakannya. Hasil EDS digunakan untuk dasar penyusunan RPS sekolah, namun dilaporkan juga  ke Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota atau Kandepag untuk dianalisis lanjut dengan memanfaatkan EMIS (Educational Management Information System/Sistem Informasi Manajemen Pendidikan) bagi keperluan perencanaan dan berbagai kegiatan peningkatan mutu lainnya.

Laporan sekolah yang mengungkapkan berbagai temuan dapat digunakan untuk melakukan validasi internal (menilai dan mencocokkan) oleh pengawas sekolah, dan validasi external dengan menggunakan beberapa sekolah oleh Kelompok Kerja Pengawas Sekolah (KKPS) pada tingkat kecamatan dengan bantuan staf penjaminan mutu dari LPMP.

Hasil EDS merupakan bagian yang penting dalam kegiatan monitoring kinerja sekolah oleh pemerintah daerah dalam rangka penjaminan dan peningkatan mutu pendidikan maka masing-masing sekolah diharapkan segera melakukan.

(Rangkuman Materi Pendampingan Pengisian EDS On line Tahun 2012 di Dinas Pendidikan Kabupaten Magetan)

 

SOSOK PEMIMPIN YANG KALEM DAN SUKSES

 

Di sebuah desa yang asri di daerah  Poncol tepatnya, telah dilahirkan seorang pemimpin yang kalem pembawaannya bernama Sujatman lahir pada tanggal 9 Agustus 1952 dan beristrikan seorang guru. Sujatman,S.Pd beralamatkan di Rt. 03 Rw. 04 Desa Ringinagung Kecamatan Magetan

Riwayat  pendidikan beliau  bermula dari RSN Poncol 2 lulus tahun 1965, melanjutkan ke SMPK Garuda Parang (1968). Tidak berhenti begitu saja,  Sujatman muda kemudian melanjutkan ke SPGC Nganjuk dan lulus tahun 1970. Sujatman muda menamatkan KPG di Magetan pada tahun 1973. Seiring dengan kemajuan dan tuntutan Undang-undang Pendidikan bahwa guru SD harus berijazah D2 PGSD,  maka beliaupun tak ketinggalan ikut juga melanjutkan pendidikan di Universitas Terbuka mengikuti program D2 yang dibiayai pemerintah tahun 1998.

Setapak demi setapak  pendidikan diikutinya, akhirnya beliau bisa meraih S1 jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia  di sebuah Universitas Kanjuruan di kota Apel Malang pada tahun 2003.

Karir  pekerjaan Sujatman, S.Pd di awali menjadi guru tidak tetap di sebuah Sekolah Dasar Poncol 1 (1970-1973). Ketelatenanya  menjadi guru tidak tetap membawa beliau sukses diangkat menjadi CPNS tahun 1974 dan Sampai di angkat secara resmi menjadi PNS beliau mengabdikan diri di SDN Poncol 1 selama 13 tahun (1965-1985).

Adanya  pemarataan tenaga pendidik tahun 1985, Sujatman di pindahtugaskan di SDN Selotinatah 3 sampai tahun 1995. Karena mempunyai dedikasi dan loyalitas maka pada tahun 1995 sampai sekarang menjabat sebagai kepala sekolah di SDN Selotinatah 3 Kecamatan Ngariboyo Kabupaten Magetan.

Prestasi siswa SDN Selotinatah 3 di bawah kepemimpinan Sujatman, S.Pd yang pernah diraih antara lain juara 2 cerdas tangkas tingkat Kabupaten (1984), Juara 1 lomba PMT-AS tingkat Kabupaten tahun 1996, juara 1 lomba PMR tingkat Kabupaten untuk putra,  juara 2 untuk putri. Lomba  olimpiade IPA tahun  2008 anak asuh Sujatman, S.Pd menraih  juara 1 tingkat Kabupaten dan berhak mewakili Kabupaten Magetan ke tingkat Provinsi Jawa Timur.

Prestasi demi prestasi  SDN Selotinatah 3 diraih selama kepemimpinan Bapak Sujatman, terbaru adalah  pada tahun  2012  juara 2 lomba olimpiade matematika di Kecamatan Ngariboyo.

Keberhasilan Bapak Sujatman tidak hanya pada kegiatan membimbing siswa-siswinya, terbukti berhasil memotivasi guru-guru yang semula berijasah SPG sekarang sudah berijasah S1 semua. Lebih lagi berhasil mengantarkan dan membina guru untuk mengikuti lomba guru prestasi tingkat Kabupaten Magetan dan meraih  juara 3. Ini merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi seorang pemimpin yang hampir habis masa jabatannya.

Sujatman, S.Pd selain sebagai kepala Sekolah, beliau juga mendapat kepercayaan sebagai ketua Gugus Selotinatah. Dalam kepemimpinan beliau saat mengikuti lomba antar gugus tahun  2005 meraih juara 3 tingkat Kabupaten, serta juara 2 tahun 2007 dalam lomba yang sama.

Di penghujung masa bakti beliau di dunia pendidikan, Sujatman, S.Pd berpesan pada guru-guru sebagai berikut: 1) Semua tugas harus kita terima dengan senang jangan menganggap ringan semua pekerjaan sekecil apapun. Menunda pekerjaan berarti menyiksa diri sendiri. 2) Sebagai pendidik jangan takut kepada atasan tetapi takutlah pada diri sendiri dan masyarakat maupun pada siswa. 3) Hargailah hormatilah orang lain karena menghormati orang lain hakekatnya juga menghormati diri sendiri.

 

One thought on “Edisi 2 Tahun 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s