Guru Kreatif dan Inovatif

Anak adalah harapan satu-satunya bagi orang tua. Sebagian besar orang tua  menginginkan  generasi penerusnya sukses sebagaimana orang tuanya.  Bahkan lebih sukses lagi melebihi  dari apa  yang diharapkan. Melihat kenyataan sekarang  harapan orang tua seperti itu terkadang bertolak belakang dengan kenyataannya. Ada anak yang sulit sekali menerima materi pelajaran sekolah, dan ada pula anak yang cepat menerima materi pelajaran dari gurunya. Di sisi lain kita juga sering kali  mendengar pengakuan dari anak–anak secara jujur. Guru ada  yang menakutkan,membosankan,  menjengkelkan dan lain-lain. Kalau benar  yang terjadi demikian.. maka bisa jadi anak – anak di kelas hanya menemukan buku pelajaran, bangku sekolah, mencatat, dan tidak pernah menemukan media belajar. Padahal usia anak di tingkat Sekolah Dasar adalah usia pertumbuhan.

Dalam usia pertumbuhan inilah masa usia emas untuk memacu semua aspek pribadi anak antara lain fisik, psikis, mental, dan spiritual yang bermutu. Sehingga Jangan sampai berhari-hari rutinitas yang dilakukan  anak-anak,  Pertama, hanya menulis, membaca buku, dan mendengarkan guru berceramah. Sementara itu hal–hal yang dibutuhkan anak justru tidak didapat. Seperti membongkar, membangun, bereksperimen, merancang, merencanakan, berkomunikasi serta memecahkan masalah. Anak tidak bisa menikmati lezatnya belajar. Kedua, setiap hari guru seringkali meninggalkan kelas. Guru hanya memberi tugas, PR, menagih tugas, sambil marah, dan sebagainya. Tentu suasana yang seperti itu dirasa anak kurang nyaman tidak bisa menikmati. Sekolah sudah  kehilangan maknanya sebagai wahana pendewasaan bagi seluruh penghuni di dalamnya. Serta penanaman ide, gagasan, dan kreatifitas otoritas-otoritas yang bersinggungan dengan keberadaannya.

Kalau yang terjadi sudah seperti itu,  berarti tidak ada  bedanya sekolah dengan penjara. Ruang-ruang kelas bagi siswa, lebih mirip dengan kerangkeng. Pintu-pintu  yang tertutup ketika pelajaran berlangsung, akan merusak cakrawala optik alternatif, bangku-bangku yang memaku tubuh anak-anak menyebabkan  sedikitpun anak tidak bisa bergerak, dan guru-guru mirip sipir penjara, marah jika dikritik, menolak jika ada usulan, membentak jika ada kesalahan, bahkan memukul ketika ada yang dirasanya pantas dipukul. Sehingga wajar ketika anak mendengar bel pulang berbunyi, apa yang terjadi? Anak langsung bersorak sorei “ Hore aku bebas “ mungkin itu yang akan diucapkan anak ketika keluar dari kelasnya .

Gambaran sekolah yang demikian dirasakan oleh anak kurang menginspirasi dan membosankan. Untuk itu  keadaan yang seperti ini tidak boleh dibiarkan berlarut. Harus kita rubah strategi, model, dan pola pikir kita untuk menghantarkan anak  sukses. Kita sebagai guru yang Profesional harus segera mengambil langkah yang cepat, tepat, akurat, dan kreatif. Dalam media KOMPAS.com  disampaikan bahwa Seorang guru harus bisa membangun iklim komunikasi yang baik dengan siswanya, agar para siswa mengerti apa yang disampaikan, dan membuat aktivitas belajar berjalan  menjadi lebih efektif, kreatif,  dan menginspirasi.

Untuk itu ada beberapa ide kreatif solusi untuk menghantarkan siswa sukses dalam belajar sesuai yang diharapkan. Pertama, guru jangan pernah mencoba menekan anak untuk memaksakan belajar dalam satu sesi. Kita ingat bahwa setiap anak sudah mempunyai pola belajar masing- masing. Seorang guru meluruskan dan memberi motivasi saja. Mungkin anak-anak ada yang belajarnya mempunyai waktu yang lama, namun tidak efektif dan ada anak yang mempunyai waktu belajarnya sedikit, namun efektif. Maka anak akan lebih berhasil yang  waktu belajarnya sedikit tapi lebih efektif, dibandingkan dengan watunya lama tapi tidak efektif. Namun tidak menutup kemungkinan lebih berhasil lagi kalau kita mempunyai waktu belajar yang lama semuanya efektif sehingga belajarnya lebih sukses dan berhasil. Selain itu, luangkan waktu belajar setiap saat dan jangan memaksakan mempelajari seluruhnya dalam satu atau dua sesi. Kuncinya, belajarlah dengan konsisten dan lakukan secara reguler meskipun dalam waktu singkat.

              Kedua,  Bikinkan anak rencana belajar yang harus diketahui oleh orang tuanya. Guru dan orang tua membuat kesepakatan yang jelas dan terprogram. Untuk itu, buatkan jadwal harian dengan waktu yang spesifik selama sepekan. Semuanya ( anak, orang tua, dan guru) harus mematuhi kesepakatan yang dibuat berdasarkan jadwal yang sudah ditentukan. Dan cobalah untuk tegas dengan jadwal yang telah disepakati bersama. Mereka yang belajar secara sporadis, pasti dalam waktu dekat dengan menerapkan jadwal secara disiplin seperti di atas pasti akan berubah total. Dan tidak lama akan kita ketahuihasilnya.
             Ketiga, ajaklah anak belajar  pada waktu yang sama. Tidak cukup hanya dengan merencanakan jadwal kapan anak harus belajar saja tetapi, anak juga harus belajar secara  konsisten dengan rutinitas belajar harian. Ketika anak  belajar pada waktu yang sama setiap hari dan setiap minggu, maka hal itu akan menjadi bagian yang rutin dalam kehidupan anak. Secara mental dan emosional, anak akan lebih mempersiapkan diri saat sesi belajar tiba dan tentunya lebih produktif. Selain itu dalam situasi apapun anak sudah tidak khawatir lagi dengan perubahan-perubahan ujian atau ulangan harian dari guru sewaktu-waktu, karena sudah dipersiapkan sejak awal.
             Keempat, yakinkan siswa bahwa Setiap kegiatan belajar harus memiliki tujuan yang spesifik. Belajar tanpa arahan yang jelas tidak akan efektif. Anak  perlu tahu dengan jelas apa yang dibutuhkan dalam setiap kesempatan belajar. Sebelum mulai belajar, anak perlu tahu dari tujuan belajarnya. Hal ini akan mendukung tujuan akademik secara keseluruhan. Kalau regulasi belajar sudah bisa berjalan dengan optimal maka belajar akan berhasil dan sukses.

Kelima,  Tanamkan kepada anak jangan sampai menunda belajar. Kegiatan ini penting kita lakukan. Kebanyakan anak gagal dalam belajar karena gara-gara menunda belajar. Banyak ujian dan cobaan dari anak dalam hal belajar. Jadwal yang sudah direncanakan matang, bisa berubah hanya gara-gara tanyangan televisi Ipin dan Upin. Atau bisa jadi tugas atau ada mata pelajaran lain yang tidak disenangi. Untuk itu jangan sekali-kali menunda belajar. Sekali kita menunda, seribu kesempatan akan hilang. Anak yang berhasil tidak pernah menunda waktunya untuk belajar. Penundaan hanya akan menimbulkan kekacauan dan menjadi penyebab nomor satu dari kegagalan.

Keenam,  Ajaklah anak belajar dari materi pelajaran yang paling sulit. Tugas atau pelajaran yang paling sulit akan membutuhkan usaha, mental, dan energi yang paling besar. Anak sebaiknya memulai dengan hal ini. Sekali anak bisa menyelesaikan tugas yang paling berat ini, akan lebih mudah untuk menyelesaikan tugas yang lainnya. Memulai dengan pekerjaan yang paling sulit akan membawa peningkatan yang sangat besar bagi keefektifan sesi belajar dan performa akademis anak.

Ketujuh,  Bimbinglah anak untuk selalu mereview catatan sebelum mulai mengerjakan tugas dan belajar. Hal yang pasti, sebelum anak dapat mereview catatan yang dimiliki, maka anak  harus memiliki catatan terlebih dahulu. Pastikan bahwa anak  selalu membuat catatan yang baik selama di kelas. Memperhatikan ketika guru mengajar. Sebelum memulai setiap sesi belajar dan mengerjakan tugas utama yang harus diselesaikan, pastikan anak tahu bagaimana mengerjakannya tugasnya dengan baik dan benar .

Kedelapan, arahkan anak bahwa selama belajar pastikan jangan ada gangguan. Ajaklah anak untuk belajar yang kondusif. Carilah tempat belajar yang aman dari gangguan. Sehingga belajarnya bisa konsentrasi. Ketika anak terganggu saat belajar maka itu akan membuyarkan konsentrasi dan kegiatan belajar. Wal hasil belajar menjadi tidak efektif. Bisa menghantarkan ke kegagalan. Sekali kita gagal reputasi anak akan turun. Untuk itu, hantarkan anak mencapai puncak prestasi dengan belajar yang sungguh – sungguh.

Kesembilan, Ajak anak untuk membentuk kelompok belajar yang  efektif. Pernahkah kita mendengar pepatah, “Dua kepala lebih baik daripada satu kepala?”. Pepatah ini bisa jadi benar untuk diterapkan dalam kegiatan belajar. Belajar secara kelompok akan membawa sejumlah hasil/  keuntungan, diantaranya, mendapatkan bantuan dari anak yang lain saat anak berjuang untuk memahami sebuah konsep, menyelesaikan tugas dengan lebih cepat, dan berbagi pengetahuan dengan anak-anak  lain,  yang akan membantu mereka untuk menginternalisasi masalah-masalah. Tetapi, kelompok belajar akan menjadi tidak efektif ketika kegiatan tidak terstruktur dan anggota kelompok belajar minim persiapan. Untuk itu persiapkan dan ajak anak-anak untuk mengoptimalkan kelompok belajar dengan sebaik-baiknya.
KesepuluhReview catatan dan tugas, dari setiap mata pelajaran di setiap akhir pekan. Anak  yang sukses  selalu mereview apa yang telah mereka pelajari selama seminggu di setiap akhir pekan. Cara ini akan membuat mereka mempersiapkan diri lebih baik untuk melanjutkan pembelajaran konsep-konsep baru pada pekan berikutnya. Mungkin itu ide kreatif dalam pembelajaran sebagai guru profesional yang harus kita kembangkan untuk mereformasi kelas dan sekolah kita. Yakinlah, dengan menerapkan ide yang kreatif dan inovatif ini  ini dalam belajar, akan membawa perubahan dan peningkatan yang signifikan dalam mencapai prestasi akademis seperti yang kita harapkan. Selain itu, jangan putus asa! Semoga berhasil dan sukses.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s