MEMBANGKITKAN GAIRAH BELAJAR

MEMBANGKITKAN GAIRAH BELAJAR ANAK

Pada Masa anak usia 8-10 tahun, anak masih memerlukan dorongan dari luar, sebab motivasi belajar dari dalam diri anak belum berakar. Apabila motivasi dari dalam diri anak belum ada lama kelamaan tanpa disadari akan muncullah masalah malas belajar. Dan masalah malas belajar itu tumbuh karena anak belum mengetahui manfaat dari belajar atau suatu keinginan yang ingin dicapainya. Selain itu juga bisa karena kelelahan beraktifitas antara lain: banyak bermain yang banyak menguras tenaga. Selain itu juga disebabkan tidak adanya dukungan dari orang tua dan juga faktor lingkungan.

Kasih sayang untuk mengatasi anak malas belajar.

Sebagian besar para orang tua dan para guru akan memarahi dang menghukun bahkan menghina bagi anak yang malas belajar. Padahal, hal ini akan berakibat kurang baik bagi perkembangan mental anak. Anak akan kehilangan kepercayaan diri dan kepribadiannya. Sebenarnya kemalasan itu membutuhkan simpati, kasih sayang dan penanganan yang tepat. Berikut adalah beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi anak malas belajar :

  1. 1.      Memberi sentuhan pada titik  peka anak

Sebagai orang tua dan pendidik bagi anak-anak, kita harus sabar dan memberikan perhatian khusus pada hal-hal yang menarik perhatian anak. Ini perlu dilakukan untuk memperoleh tanggapan dan perhatian anak. Dengan demikian anak akan terbuka menerima pendapat orang lain dengan perasaan senang dan gembira, bebas dari perasaan tertekan, takut dan terpaksa.

Pada akhirnya anak nanti akan menerima pemahaman betapa pentingnya “ proses belajar untuk mencapai tujuan atau cita-cita”. Sehingga anak akan tergerak untuk melakukan dan merencanakan kegiatan belajar dari dalam hatinya sendiri ( motivasi intrinsic). Tentu saja ini dibutuhkan kesabaran untuk mendekatkan pada anak.

  1. 2.      Membangkitkan nilai plus bagi anak

Setiap orang tua tentunya menginginkan semangat anaknya terpacu untuk belajar. Untuk menyentuh perasaan anak / keinginannya, agar dirinya merasa tertantang untuk melakukan sesuatu yang positif. Kita dapat mengambil contoh dari tokoh-tokoh film yang sukses yang diidolakan anak. Kita dapat mengungkapkan pada anak bahwa untuk menjadi sukses dibutuhkan : perencanaan belajar, cara-cara belajar tahu yang  hendak dipelajari, sehingga terkesan pemahaman “ belajar yang tidak sekedar belajar . hal ini harus sering kita lakukan karena anak usia SD masih perlu bimbingan secara terus menerus.

  1. 3.      Mengembangkan cita-cita anak

Kita orang tua / guru berperan aktif untuk mendorong agar  anak memiliki cita-cita sesuai dengan taraf perkembangan daya nalar dan usianya. Cita-cita anak selalu berubah-ubah bila masih kanak-kanak sesuai perkembangannya. Bila sudah punya cita-cita hidup akan tumbuh motivasi pada diri anak akan lebih giat belajar.

  1. 4.        Menentukan waktu belajar yang tepat bagi anak

Hal yang perlu dilakukan dalam menentukan waktu belajar adalah : sesuaikan keinginan anak tidak berbenturan dengan waktu keinginan anak yang lain, kondisikan anak dalam suasana fresh / segar, bebas rasa ngantuk , lelah dan sebagainya.

  1. 5.      Mengembangkan tujuan belajar

Kalau anak tahu apa tujuan belajar dan manfaat belajar anak tentunya akan belajar dengan sungguh-sungguh dan lebih bermakna, tentunya anak lebih mudah memusatkan perhatian pada apa yang dipelajari.

  1. 6.        Mengembangkan cara belajar yang baik pada anak

Anak diberi strategi / trik-trik tertentu untuk belajar yang mudah dan baik, sehingga anak cepat memahami.

  1. 7.        Mengembangkan rasa percaya diri pada anak

Hal ini sangat penting bagi anak, karena rasa percaya diri merupakan sumber motivasi besar bagi  anak untuk memusatkan perhatian terhadap apa yang dipelajarinya. Dengan percaya diri anak akan tumbuh semangat bahwa dia mampu melakukan sesuatu yang sulit menjadi tantangan yang harus ditaklukkan / dikuasai, tidak gampang menyerah dalam menghadapi hambatan belajar.

 

MOTIVASI ANAK AGAR TIDAK MALAS BELAJAR

Berhasil membimbing anak dalam belajar dan menjadikannya sukses adalah suatu kebanggaan tersendiri bagi kita semua. Bahkan kita rela berusaha semaksimal mungkin demi membantu anak sukses dalam belajarnya. Tetapi bagaimana caranya yang paling tepat ? inilah yang menjadi tantangan bagi kita semua.

Membantu anak dalam belajar bukanlah hal yang sederhana, bahkan bisa menjadi suatu tantangan tersendiri baik secara intelektual atau secara emosional. Keberhasilan belajar anak bukan hanya tanggung jawab gurunya saja tapi merupakan tanggung jawab kita semua, sekolah, keluarga dan masyarakat.

Pola belajar anak memang dibentuk sejak usia dini dan pada pendidikan dasar. Sesuai dengan masanya. Ia mengalami masa perkembangan mental dan pendidikan karakter. Dimasa ini sebenarnya anak tidak hanya belajar : membaca, menulis, berhitung atau menghafal pengetahuan umum. Tetapi juga belajar tentang tanggung jawab skala nilai moral, skala nilai prioritas kegiatan, juga soal kedisiplinan. Terkadang hal ini yang sering kita lupakan.

Kadangkala ada sebagaian orang tua yang terlalu ikut campur tangan mengerjakan PR anaknya bahkan dikerjakan orangtuanya/ kakaknya lalu anaknya tinggal menyalin di buku pelajaran. Hal ini tidak sesuai dengan aspek yang diharapkan guru di sekolah. Tujuan anak diberi PR adalah agar anak mau mengulang bahan pelajaran yang disampaikan di sekolah, mendidik anak agar ia bertanggung jawab terhadap suatu tugas, melatih mengatur jadwal kegiatan, dan melatih anak mengerjakan sesuatu secara mandiri.

Dengan demikian apakah orang tua tidak boleh membantu anak dalam belajar dan membantu anak dalam mengerjakan PR ? Boleh bahkan memang dibutuhkan tetapi harus dengan cara yang tepat. Berikut ini ada beberapa cara yang tepat untuk membantu anak dalam mengerjakan PR :

  1. Mulailah mengajarinya untuk belajar dan mengerjakan PR tiap hari secara rutin

Kalau perlu buat kesepakatan belajar untuk membuat jadwal jam berapa harus belajar. Dengan cara ini belajar lebih ringan dan dalam menghadapi ulangan kita tidak gentar lagi atau merasa enjoy.

  1. 2.      Tanamkanlah dalam diri anak bahwa kegiatan belajar adalah hal yang harus diprioritaskan dalam kegiatan sehari-hari

Jangan kacaukan jam belajar anak dengan acara yang lain seperti diajak belanja atau diajak bermain. Kalau sudah terbiasa sejak kecil orang tuanya menghargai waktu belajar otomatis anak terbiasa / beranggapan bahwa waktu belajar adalah sangat penting tidak di sia-siakan.

  1. 3.      Perhatikan bagaimana suasana hati mereka saat belajar.

Apakah ekspresinya senang atau kesal dan frustasi. Sebagai orang tua harus tanggap apa yang harus dirasakan anak saat belajar. Bila belajar dengan suasana senang akan mudah melekat dalam diri anak dan anak merasa tidak dibebani. Tetapi kalau anak merasa kesal saat belajar kita orang tua harus mencari apa penyebabnya. Disini orang tua sangat berperan, kita dekati perasaannya, diajak komunikasi hingga suasana belajar nanti menjadi menyenangkan saat ia belajar. Memang perlu kesabaran yang luar biasa, sebab anak butuh bimbingan.

  1. 4.      Pujilah usahanya

Dalam belajar dan mengerjakan PR jangan dilihat hasil akhirnya saja, hargailah usaha dan jerih payahnya walaupun hasil akhirnya belum sempurna. Hal itu wajar sebab justru memang itulah tujuan diberikan tugas itu untuk mengasah keterampilan anak. Ibaratnya “ tak usah mengasah pisau yang sudah tajam ”.

  1. 5.      Berilah penghargaan bagi anak atas usahanya walaupun dengan pujian

Dengan demikian anak merasa dihargai oleh orang lain sehingga nanti kalau ada PR lagi dia akan lebih bersemangat dalam mengerjakan PR.

  1. 6.      Jadikan suasana belajar dimana anak merasa nyaman.

Mungkin ia akan merasa aman dan nyaman belajar bila dekat dengan ibunya maka ibu harus siap menemani.

  1. 7.      Sediakan alat tulis yang diperlukan

Sebagai  orang tua harus sering mengontrol peralatan sekolah anaknya, jangan nunggu anaknya minta baru dibelikan. Sebab terkadang anak malas mengerjakan PR dengan berbagai alasan : pensilnya habis, setipnya habis bahkan buku tulisnya habis.

  1. 8.      Ajak anak menceritakan hari-harinya disekolah.

Biasakan sejak kecil untuk berbicara secara terbuka pada orang tua. Dengan ditanya kegiatan anak disekolah anak merasa diperhatikan dan orang tua bisa memantau situasi anak di sekolah. Gunakan waktu santai / rilex sehingga anak bebas untuk  menceritakan.

  1. 9.      Bila anak sedang belajar usahakan agar tidak ada hal yang menganggu konsentrasinya

Berikan suasana yang tenang. Tetapi bila ada anak yang gaya belajarnya sambil mendengar TV ya usahakan jangan terlalu keras.

  1. 10.  Hal yang sangat penting adalah komunikasi dengan anak.

Jadikan diri kita sebagi orang tua dan pendengar yang baik. Dengarkan dulu apa yang dirasakan dan hendak dikatakan anak. Jangan malah anak belum-belum sudah di beri nasehat bertubi-tubi tanpa memberi kesempatan mengemukakan pendapatnya / pikirannya. Dan jika ia mengutarakan sesuatu yang kurang sesuai dengan kemauan kita ( orang tua ) jangan langsung dimarahi atau dicela. Ajak ia bicara baik-baik dan buat dia untuk mengerti. Hal ini penting karena mengkondisikan anak untuk biasa bicara terbuka dan tidak berbohong pada orang tua.

  1. 11.  Jika anak hendak belajar kelompok bersama temannya dukunglah.

Hal ini dapat membuat anak bisa bersosialisasi dengan orang lain, tetapi orang tua harus memantau apakah belajar bersama sungguh-sungguh atau bersama dengan teman-temannya Cuma untuk bermain.

  1. 12.  Dengarkan komentar anak tentang gurunya.

 Tidak jarang anak mengeluh cara mengajar gurunya disekolah missal : terlalu cepat, gurunya galak, anak sulit menerima pelajaran. Jika mengalami hal seperti ini pertimbangkan untuk bertemu dengan gurunya.

  1. 13.  Refleksi Bagi Orang Tua

Setelah anak seharian berhadapan dengan gurunya di sekolah, jangan lagi kita yang seharusnya menjadi orang tuanya malah memposisikan diri sebagai guru lagi di rumah jadilah “orang tua”  bagi anak-anak kita di rumah.

Orang tua tidak hanya sebagai pengasuh, tapi juga sebagai pendidik, pelindung, pendorong, sekaligus sebagai sahabat yang saling memahami sorang anak.  

Mari kita posisikan peran kita sebagai orang tua secara proporsional, beri kesempatan pada anak-anak kita agar dapat berkembang secara wajar dengan tanpa merasa diintervensi keinginan-keinginannya, biarkan anak-anak kita tumbuh sesuai usia mental dan perkembangannya, inilah kiranya ujian kesabaran yang musti kita lalui untuk mewujudkan generasi masa depan. SEMOGA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s